Hampir Separuh Wilayah Karangmoncol Rawan Longsor
LONGSOR : Hampir separuh wilayah Kecamatan Karangmoncol rawan longsor. Seperti di Sirau, akhir Juni lalu. (BPBD PURBALINGGA UNTUK RADARMAS)
Hasil Analisa Tim Teknik Geologi Unsoed
PURBALINGGA - Tim dari Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) memaparkan hasil Studi Proyek Independen Tentang Pergerakan Tanah di Wilayah Kecamatan Karangmoncol, Senin (18/7) di Ruang Rapat Bupati.
Hasilnya, hampir separuh wilayah Kecamatan Karangmoncol rawan tanah longsor.
Dosen Pembimbing Lapangan FT Unsoed Indra Permana Jati ST MT mengungkapkan, melalui penelitian ini pihaknya ingin membantu bagaimana bencana di Purbalingga dimanajemen dengan baik. Sehingga implikasinya adalah keselamatan.
Azwar Fajri mahasiswa Geologi Unsoed yang melaksanakan studi ini memaparkan, Kecamatan Karangmoncol didominasi bencana tanah longsor. Longsor bisa terjadi tidak hanya terjadi karena satu faktor, tapi ada faktor pengontrol dan pemicu.
"Setelah kami uji, bencana longsor di Karangmoncol banyak terjadi di satuan batu pasir (8 longsor) dan lava andesit (8 longsor)," rincinya.
Selanjutnya dari aspek kemiringan lereng, hasil menunjukan di kemiringan 16 - 35 derajat lebih sering terjadi longsor (23 longsor). Sedangkan dari segi elevasi, longsor paling banyak terjadi di ketinggian 600 - 800 meter (10 longsor). Longsor juga sering terjadi di daerah dengan jarak struktur geologi kurang dari 500 meter (17 longsor).
"Peran dari air yang juga pemicu longsor, dan kejadian yang kami temukan juga berkorelasi. Dimana longsor yang ditemui lebih banyak terjadi di dekat dengan sungai dengan jarak kurang dari sama dengan 100 meter (28 longsor)," imbuhnya.
https://radarbanyumas.co.id/bukit-siregol-kembali-longsor/
Selanjutnya dari segi tutupan lahan, pemukiman lebih sering terjadi longsor (14 longsor). Demikian dari segi kerapatan sungai, kejadian longsor lebih sering terjadi di kerapatan 4-6 km/km persegi (16 longsor).
"Bencana selalu ada 'ketidakpastian' sehingga yang kita gunakan adalah mitigasi atau bergerak ke arah aman. Jika saat ini pemerintah daerah masih fokus di emergency rensponse, kita melangkah agar bagaimana bencana itu tidak terjadi," tutur Dosen Pembimbing Lapangan FT Unsoed Indra Permana Jati ST MT. (amr)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
