Pernah Melukis Wajah Bupati Purbalingga
KREATIF : Septo saat membuat karya lukisan sketsa wajah di rumahnya. (AMARULLAH NURCAHYO/RADARMAS)
Septo Winarno, Pelukis Sketsa Wajah dari Bambu Asal Desa Banjaran
Melukis di kanvas, kertas dan media lainnya sudah cukup lazim. Namun di Desa Banjaran, Kecamatan Bojongsari, ada seorang pemuda yang biasa disapa Septo, berinovasi membuat lukisan sketsa wajah dari bambu. Karena produk saat ini didominasi oleh pembuatan gedek yang pasarannya tidak semoncer dahulu.
AMARULLAH NURCAHYO, Purbalingga
Pria muda bernama Septo Winarno, siang itu terlihat masih berada di dalam salah satu ruangan di rumahnya. Tangannya memegang pisau tajam dengan sesekali melihat foto seseorang di depannya. Tangannya mulai meliuk mengukir potongan bambu serupa penggaris.
Ya, bapak satu anak asli Desa Banjaran ini sedang mengerjakan pesanan foto pasangan muda agar terlukis seperti sketsa di bambu. Ia butuh waktu 3 hari sampai seminggu tergantung ukuran dan tingkat kerumitannya.
Menurutnya, untuk menggambar sketsa wajah, dia membutuhkan bambu wulung atau bambu hitam. “Kalau foto orang harus presisi dan diupayakan mirip 100 persen. Mulai dari mata, senyuman bibir, dan lainnya,” ujar pria yang saat ini tinggal di wilayah Padamara.
Sebenarnya, keahlian dirinya melukis di atas goresan bambu sempat muncul saat sekolah. Seiring perkembangan, minat melukis menurun dan kerja di salah satu perusahaan swasta.
https://radarbanyumas.co.id/puluhan-pelukis-purbalingga-giatkan-pameran-bersama/
Namun karena kerap diliburkan oleh perusahaan tempatnya bekerja, maka dia mencari jalan menambah pendapatan.
KREATIF : Septo saat membuat karya lukisan sketsa wajah di rumahnya. (AMARULLAH NURCAHYO/RADARMAS)
Sudah hampir 2 tahun dia menggeluti kerajinan lukisan dengan media bambu. Lumayan untuk menambah penghasilan, karena harus menghidupi keluarga yang saat itu masih masa pandemi Covid-19.
Beruntung, pesanan mulai banyak. Bahkan dirinya pernah melukis wajah Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi dan mendapatkan apresiasi tinggi dari bupati. Hingga ia akhirnya terus menggeluti hobi yang sempat terputus karena kerja.
“Harga yang saya patok juga masih terjangkau. Diantaranya ada yang Rp 75 ribu sampai ratusan ribu. Biasanya pasangan suami istri, anak-anak muda, memilih dilukis dengan sketsa di bambu,” imbuhnya.
Kini tak hanya sketsa wajah, namun ada yang memesan nama. Dengan peralatan manual yang dimilikinya, ia terus menyelesaikan karyanya demi dapur tetap ngebul.
“Tak hanya melayani pesanan melalui media sosial dan online, langsung datang juga dilayani,” katanya.
Terpisah, Kepala Desa Banjaran Muhamad Ichmun mengungkapkan, sejak lama desa yang dipimpinnya terkenal kerajinan bambunya. Potensi bambu yang ada dibentuk berbagai macam kerajinan lalu dijual untuk menambah penghasilan masyarakat.
“Warga terinspirasi membuat sketsa wajah dari bambu ini karena Desa Banjaran ini kaya bahan baku bambu,” ujarnya. (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

