Dibalik Kata Kerja Mudhori' Dalam Ayat Puasa
M. Asdi Nurkholis, S.Pd.I., B.Ed., M.Pd. (Kaprodi S1 Pendidikan Bahasa Arab UMP)--
Oleh. M. Asdi Nurkholis, S.Pd.I., B.Ed., M.Pd.
(Kaprodi S1 Pendidikan Bahasa Arab UMP)
Ramadhan menjadi momentum keberkahan bagi setiap pribadi muslim dan muslimah dimanapun mereka berada.
Setidaknya kita menyadarkan diri akan luasnya kasih sayang Allah kepada hamba-Nya, kenapa tidak?
Karena Allah yang telah menciptakan kita, Allah menciptakan kebutuhan harian kita, bahkan Allah membimbing kita menuju jalan surga-Nya dengan jalan ketakwaan.
Salah satu ibadah ketakwaan itu adalah puasa wajib di bulan Ramadhan, Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian puasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian senantiasa melakukan kerja ketakwaan" (QS. Al-Baqarah 183)
Takwa berasal dari bahasa Arab
(Ittaqa-Yattaqi) اِتَّقٰى- يَتَّقِيْ
Ittaqa adalah kata kerja Madhi yang menunjukkan makna dikerjakan pada masa lampau.
Adapun Yattaqi adalah kata kerja Mudhori yang menunjukkan makna dikerjakan pada saat ini hingga masa yang akan datang, dan Allah berfirman dengan kata kerja ini تَتَّقُونَ (kalian senantiasa melakukan kerja ketakwaan)
Sehingga bisa difahami bahwa kita akan terus menerus melakukan ibadah dan aktivitas ketakwaan kapanpun dimanapun hingga sampai kapanpun, sampai batas kita kembali kepada-Nya bukan batas berakhirnya bulan Ramadhan.
Imam Al-Qurthubi menerangkan korelasi puasa dengan ketakwaan pada ayat Tattaqun dengan makna Tath'afun ( َتَضْعَفُوْن) kalian senantiasa melakukan kerja kelemahan, maksudnya bahwa setiap kali seseorang menyedikitkan makan, maka akan melemahkan hawa nafsunya, dan setiap kali hawa nafsunya itu melemah, maka akan menyedikitkan dalam perbuatan maksiat.
Itulah ketakwaan yang Allah inginkan dari kita dalam bentuk kerja kebaikan salah satunya dengan menyedikitkan makan. Dan tentunya dalam kondisi puasa akan mendorong dan memotivasi semangat dalam kebaikan tersebut, karena puasa adalah amalan tersembunyi antar kita dengan Allah, bahwa tidak ada aktivitas kebaikan yang kita lakukan kecuali hanya mengharap ridho Allah, tidak ada harapan pujian dari manusia sedikit pun.
Itulah kerja ketakwaan yang sebenarnya, bekerja Lillah, semangat tidak pernah surut karena diawasi Allah, dan akan bertambah produktif pekerjaannya karena menanti balasan surga-Nya Allah. (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
