1.300 Hektare Sawah Diserang Hama Tikus, Dinpertan Lakukan Pengendalian
Petugas Pengawas Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) melakukan pengendalian hama tikus. -Dinpertan Purbalingga untuk Radarmas-
PURBALINGGA, RADARBANYUMAS.DISWAY.ID - Serangan hama tikus masih menjadi momok bagi petani di Kabupaten Purbalingga. Hingga Oktober 2025, Dinas Pertanian (Dinpertan) mencatat sedikitnya 1.300 hektare lahan padi telah dilakukan pengendalian hama tikus, disusul wereng cokelat yang menyerang sekitar 900 hektare.
Kepala Bidang Pengendalian Pertanian, Dinpertan Kabupaten Purbalingga, Edy Setyana, mengatakan serangan hama tikus hampir merata di wilayah dengan hamparan sawah luas.
"Wilayah seperti Rembang, Kalimanah, Kejobong, Bukateja, Kemangkon, dan Padamara menjadi lokasi paling banyak terdampak," katanya.
Menurutnya, pengendalian dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari pemasangan Trap Barrier System (TBS) atau jebakan tikus, pemberian umpan dan mercon tikus, hingga pemeliharaan burung hantu sebagai predator alami.
BACA JUGA:1,5 Hektar Lahan Sawah Diserang Tikus, 23 Hektar Lainnya Terancam
"Burung hantu efektif memangsa tikus, sehingga bisa menekan populasinya di area persawahan," jelasnya.
Salah satu upaya terbaru dilakukan di Desa Dawuhan, Kecamatan Padamara, menggunakan semprotan herbal yang memiliki aroma tak disukai tikus. "Kami terus mencari cara ramah lingkungan agar pengendalian tidak merusak ekosistem," tambahnya.
Edy menjelaskan, pengendalian dilakukan secara terkoordinasi antara Dinpertan, Petugas Pengawas Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP).
"Kalau ada serangan hama seperti tikus, wereng, atau penggerek batang, petani bisa langsung melapor. Petugas akan turun untuk pemeriksaan dan tindakan pengendalian. Kami juga siapkan obat-obatannya," paparnya.
BACA JUGA:Dinpertan Manfaatkan Predator Burung Hantu untuk Atasi Serangan Hama Tikus
Ia menuturkan, hama tikus memiliki daya reproduksi yang sangat cepat. Setelah melahirkan, dua hari kemudian bisa kawin lagi. Hamilnya sekitar 18 hari, dan sekali melahirkan bisa 8-10 anak. Dalam satu musim tanam, populasinya bisa berlipat-lipat.
Selain faktor reproduksi, adaptasi tikus yang tinggi membuatnya mudah berpindah tempat ketika habitat terganggu. Pematang sawah, jalan besar di sekitar lahan, hingga gulma yang rimbun menjadi tempat persembunyian ideal bagi tikus.
Selain hama tikus, Dinpertan juga terus memantau serangan wereng cokelat. Sebelum dilakukan pengendalian, petugas POPT melakukan analisa lapangan untuk menentukan langkah yang tepat. "Kami juga memberikan stimulan berupa pestisida dan insektisida bagi petani terdampak," kata Edy.
Dengan berbagai upaya itu, Dinpertan berharap serangan hama bisa ditekan agar produksi padi di Purbalingga tetap terjaga. (alw)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

