Angka Pernikahan Dini di Purbalingga Turun
Kepala Kemenag Purbalingga, Zahid Khasani saat monev di KUA Kejobong, (11/9). Tren angka pernikahan dini di Purbalingga diklaim menurun.-Kankemenag Purbalingga untuk Radarmas-
PURBALINGGA, RADARBANYUMAS.CO.ID – Angka pernikahan dini atau pernikahan dibawah usia 19 tahun di Kabupaten Purbalingga dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren menurun.
Data Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Purbalingga mencatat, pada tahun 2022 jumlah pernikahan dini mencapai 83 laki-laki dan 281 perempuan.
Tahun 2023, tercatat 69 laki-laki dan 339 perempuan. Angka tersebut turun pada 2024, yakni 61 laki-laki dan 250 perempuan. Sementara pada 2025 hingga Agustus, jumlahnya kembali menurun dengan 28 laki-laki dan 144 perempuan.
Kepala Kantor Kemenag Purbalingga, Zahid Khasani, menyebutkan tren penurunan ini tidak lepas dari kerja sama semua pihak.
BACA JUGA:Pernikahan Dini di Purbalingga Masih Tinggi, Ini Angkanya
Kemenag, kata dia, memiliki penyuluh dan penghulu yang aktif melakukan sosialisasi pernikahan sesuai regulasi, serta tenaga bimbingan perkawinan yang hadir di masyarakat, termasuk di majelis taklim.
"Kesadaran calon pengantin juga meningkat, baik dari sisi psikologis, usia maupun ekonomi. Di lapangan, bimbingan melibatkan Puskesmas, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas," jelasnya.
Menurut Zahid, kesadaran publik dan kedewasaan berpikir turut mendukung penurunan angka pernikahan dini. Perkembangan media sosial juga membuka wawasan masyarakat terkait dampak negatif pernikahan dini.
Ia mengingatkan para orangtua agar memberi pemahaman kepada anak bahwa pernikahan adalah sekali seumur hidup. Karena itu, manajemen ekonomi dan mental harus disiapkan agar dapat membentuk keluarga sakinah, mawaddah, warahmah.
BACA JUGA: Pernikahan Dini Tinggi, Kemenag Gencarkan Sosialisasi
Untuk generasi muda, Zahid menekankan pentingnya mencari bekal sebelum menikah. "Siapkan pendidikan, ekonomi, dan kematangan dalam berumah tangga," pesannya.
Sebagai bentuk nyata, Kemenag Purbalingga juga menjalankan program Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) serta kampanye Gerakan Madrasah Anti Bullying (Gema Braling) yang diharapkan mampu memperkuat pembinaan generasi muda. (alw)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
