Banner v.2

Siswa SD Bersama 7 Rekannya Cabuli Siswi SMP

Siswa SD Bersama 7 Rekannya Cabuli Siswi SMP

Polisi Jemput Satu Per Satu Korban dan Pelaku di Sekolah Mengungkap kasus pemerkosaan dan kekerasan seksual di Indonesia laksana mengupas kulit bawang. Makin banyak kasus dikupas, makin banyak air mata yang terkuras. Kasus yang terungkap kemarin (12/5) semoga menjadi kupasan kulit bawang terakhir. Sebab, fakta tentang pelaku dan korban begitu memilukan. FOTO-A-2----TERSANGKA-CABUL_Ahmad-Khusaini-Jawa-Pos_Jawa-PosKapolrestabes Surabaya Kombes Pol Iman Sumantri mengungkapkan, kasus pemerkosaan yang diungkap Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya itu melibatkan delapan pelaku. Yang membuat shock, seluruh pelaku pencabulan tersebut masih belia. "Tiga masih duduk di bangku SD dan lima lainnya duduk di bangku SMP," ungkapnya di Mapolrestabes Surabaya kemarin. Pelaku paling muda berumur 9 tahun yang baru kelas III SD, sedangkan yang tertua berusia 14 tahun (kelas III SMP). Delapan pelaku pencabulan tersebut adalah MI, 9; MY, 12; JS, 14; AD, 14; BS, 12; LR, 14; As, 14; dan HM, 14. "Mereka tinggal di satu lingkungan yang sama, yakni daerah Kalibokor Kencana, Surabaya," jelas Iman. Kepiluan terus berlanjut. Korban pencabulan delapan bocah bau kencur itu ternyata juga masih sangat muda. Bunga (nama samaran) baru menginjak umur 13 tahun dan duduk di kelas I SMP. Kasus pencabulan dengan pelaku dan korban di bawah umur itu tercium polisi sejak Minggu (8/5). Awalnya, Unit PPA Polrestabes Surabaya memperoleh laporan tentang tindakan asusila yang dilakukan anak-anak. Sumber internal Jawa Pos di kepolisian menyebutkan, polisi sudah menyiapkan penangkapan pada Senin (9/5). Namun, lantaran ada tiga pelaku yang masih mengikuti ujian nasional (UN), rencana itu ditunda hingga kemarin. "Selama empat hari kami terus pantau mereka," ungkapnya. Nah, setelah tiga pelaku yang duduk di kelas III SMP tersebut selesai menjalani UN, polisi mengamankannya satu per satu dan membawanya ke Mapolrestabes Surabaya kemarin. Dari keterangan para tersangka, diperoleh kisah yang sangat memprihatinkan. Pencabulan yang melibatkan anak-anak di bawah umur tersebut terjadi sejak 9 tahun lalu. Tepatnya saat korban masih berusia 4 tahun. Orang yang pertama melakukannya adalah AS, teman sepermainan Bunga. Tindak asusila itu kali pertama dilakukan di balai RW dekat rumah mereka. Aksi tersebut terus dilakukan setiap hari. Bahkan, menginjak kelas VI SD, tersangka AS juga mencekoki Bunga dengan pil narkoba Double L sampai Bunga ketagihan obat terlarang itu hingga kini. Saking ketagihannya, Bunga beberapa kali rela disetubuhi AS hanya demi mendapatkan pil Double L. Parahnya, sejak April lalu, AS mengajak tujuh pelaku lain untuk menyetubuhi Bunga. Tidak berhenti di situ, Bunga yang sudah ketagihan tidak jarang meminta sendiri kepada para tersangka untuk mencabuli dirinya. Beberapa sumber di kepolisian membenarkan bahwa Bunga pernah meminta langsung kepada para tersangka untuk disetubuhi. Dari keterangan yang dihimpun, gadis yang sehari-hari membantu neneknya bekerja membersihkan pemakaman di Ngagel itu rela membelikan rokok dan es bagi para pelaku sebagai bayaran untuk menyetubuhi dirinya. Lokasi yang kerap dipilih adalah sepanjang rel kereta api Ngagel. Suasana sepi serta jauh dari pantauan membuat para tersangka dan korban bebas melakukan persetubuhan. Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Iman Sumantri menegaskan, pemeriksaan terhadap para tersangka pencabulan itu masih bisa terus berkembang dan akan ditindaklanjuti. Untuk kasus pidanannya, polisi dengan tiga melati di pundak itu menjelaskan, ada undang-undang khusus yang diberlakukan untuk kasus tersebut.     Sebab, sebagian besar pelaku masih di bawah umur. Pihaknya akan terus memproses hingga ke tahap pengadilan. Dari interogasi diketahui bahwa Bunga kerap mengonsumsi pil Double L. Tersangka AS-lah yang menjadi pemasok barang terlarang tersebut.     "Kami masih mendalami hal ini, apakah benar aksi pencabulan ini berdasar pengaruh pil Double L itu," tegas Iman. Risma Kecewa Sebagai sosok yang sangat menyayangi anak-anak, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sangat kecewa terhadap kasus pencabulan yang melibatkan anak di bawah umur itu. Begitu mendapat kabar soal pengungkapan kasus tersebut, Risma –sapaan Tri Rismaharini– langsung hadir di Mapolrestabes Surabaya untuk melihat para tersangka dan korban. Tanpa bisa berbicara, Risma memandangi satu per satu wajah para pelaku. Marah dan kecewa tersirat dari wajahnya. "Kamu kelas berapa? Kalau dipenjara gimana? Gak kasihan sama orang tua kalian?" cetus Risma kepada para pelaku. Matanya pun berkaca-kaca melihat kelakuan anak-anak di bawah umur itu. Ada kesan tidak percaya anak-anak tersebut sampai melakukan aksi pencabulan. Setelah mengetahui latar belakang korban, Risma pun tak ragu menyebut kasus pencabulan itu masih berkaitan dengan lokalisasi PSK Dolly yang ditutupnya dua tahun lalu. Ada benang merah yang bisa ditarik dari sana. Sebab, ibu korban adalah bekas PSK di Dolly.     "Saya tutup Dolly itu tujuannya ya untuk menyelamatkan anak-anak seperti ini. Lingkungan seperti itu berdampak buruk bagi mereka," ungkapnya. Risma mengaku sangat sedih atas mencuatnya kasus pencabulan tersebut. Apalagi, korban mengalaminya sejak usia empat tahun. Risma juga tidak ingin menyalahkan para pelaku. Sebab, faktor lingkungan dan pengaruh negatif internet juga ikut menjadi pokok permasalahan moral yang ada pada kasus itu. Risma berharap kejadian tersebut bisa menjadi pelajaran untuk para orang tua agar pengawasan terhadap anak semakin ditingkatkan. Masyarakat harus menjaga lingkungannya untuk mencegah kasus serupa terjadi lagi. "Kalau orang tua, keluarga, dan lingkungan peduli terhadap perkembangan anak-anak, saya yakin kasus seperti ini tidak akan terjadi lagi,"tuturnya. (rid/did/c5/c9/kim)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: