Buru Santoso, Heli TNI AD Jatuh
[caption id="attachment_102386" align="aligncenter" width="100%"] grafis-heli jatuh[/caption] 13 Orang Tewas, Termasuk Danrem 132 Tadulako PALU- Heli milik TNI Angkatan Darat yang dilibatkan dalam Operasi Tinombala- operasi perburuan kelompok teroris Santoso Cs di Kabupaten Poso- terjatuh sekitar pukul 18.00 wita, kemarin (20/3). Sejumlah penumpang, termasuk Komandan Korem 132 Tadulako, Kolonel Inf Syaiful Anwal dikabarkan ikut menjadi penumpang dalam heli naas tersebut. Informasi yang dihimpun Radar Sulteng menyebutkan, heli jenis bell 412 dengan nomor lambung EP No. HA-5171 tersebut, terjatuh sekitar pukul 17.55 wita di sebuah perkebunan milik warga di Dusun Pattiro Bajo, Kelurahan Kasiguncu, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso. Heli tersebut berangkat dari Desa Watutau, Kecamatan Lore Utara, sekitar pukul 17.30 wita menuju Kabupaten Poso. "Namun tepatnya di Dusun Pattiro Bajo heli tersebut terjatuh di kebun milik warga setempat," terang sumber. Diinformasikan pula, heli tersebut mengangkut penumpang sebanyak 13 orang empat di antaranya pilot dan teknisi heli. Sejumlah penumpang yang diketahui ikut dalam heli tersebut, yakni Danrem 132 Tadulako, Kolonel Inf Syaiful Anwar, Kolonel Inf Ontang (BIN), Kolonel Inf Herry (Bais), Letkol CPM Teddy (Dandenpom Palu), Mayor Inf Faqih (Kapenrem Tadulako), Kapten CKM Yanto (Dokter Denkesyah Palu), Prada Kiki (Ajudan Danrem), serta 8 orang crew heli masing-masing ; Kapten CPN Agung (Pilot), Wiradi (Co Pilot), Tito (Co Pilot), Sert Bagus (Mekanik), Serda Karmin (Mekanik), dan Pratu Bangkit (Avionic). “Helinya jatuh dan terbakar. Proses evakuasi masih terus berjalan,” kata sumber. Sementara itu, Wakil Kepala Kepolisian Resort (Wakapolres) Poso, Kompol Darno yang dikonfirmasi tadi malam, membenarkan kejadian tersebut. Meski demikian dirinya belum mengetahui pasti penyebab jatuhnya termasuk kronologis lengkap kejadian tersebut. Terpisah, Kepala Penerangan Kodam VII Wirabuana, Kolonel CZI I Made Sutia, turut membenarkan jatuhnya heli yang memang berpangkalan di Kodam Wirabuana tersebut. Made sendiri hingga kini terus mengumpulkan informasi dari TKP. "Benar, memang Danrem juga salah satu penumpang didalamnya. Tapi kita masih memastikan lagi," sebut Made. Sementara itu, tadi malam seluruh prajurit Korem 132 Tadulako dikumpulkan dan dilakukan apel malam. Persiapan penyambutan terhadap jenazah-jenazah di Makorem, Jalan Jenderal Sudirman Palu juga mulai terlihat. Rencananya, jenazah yang telah dievakuasi dari TKP ke RSUD Poso, akan diberangkatkan ke Palu, pagi ini. Pantauan Radar Sulteng di lokasi kejadian, helikopter hancur dengan kondisi 80 persen terbakar. Heli dijaga ketat aparat keamanan TNI dan Polri. Seluruh penumpang dan awak kru yang menjadi korban langsung di evakuasi ke RSUD Poso yang berjarak sekitar 15 kilo meter dari TKP. "Kami dengar memang suara ledakan. Tapi kami kira suara petir karena kondisi waktu itu memang lagi hujan. Eh ternyata heli yang jatuh," kata beberapa warga di lokasi. "Kami turut berduka atas musibah ini," lanjut mereka. Tampak ratusan warga memadati lokasi jatuhnya pesawat dan ikut membantu proses evakuasi korban. Kepala Polres Poso AKBP Rony Suseno yang dikonfirmasi terpisah juga membenarkan terjadinya musibah kecelakaan jatuhnya helikopter milik TNI-AD di wilayah desa Petirobajo Poso Pesisir. Dipastikan seluruh penumpang dan kru yang berada dalam heli meninggal dunia. "Helikopter TNI-AD ini jatuh dalam perjalan dari Lore ke Poso. Terbang dari sana (Napu) jam 17.00 wita, dan sudah mau sampai di Poso. Tapi karena cuaca buruk pukul 17.55 heli jatuh," terangnya soal kronologi jatuhnya heli. Hingga berita ini diturunkan sebagian jenazah korban heli jatuh sudah berada di kamar jenazah RSUD Poso. Proses evakuasi korban pun masih terus berlangsung. Kondisi jenazah menurut petugas medis RSU Poso, sebagian besar sulit dikenali karena mengalami luka bakar. Sedangkan empat jenazah lainnya masih bisa dikenali diantaranya, Danrem, Kapenrem dan dari BIN. Wakil Bupati Poso Samsuri MSi tampak berada di pelataran kamar jenazah RSUD Poso untuk melihat langsung kondisi korban. Cuaca Buruk Terjadi di Poso Sementara forecaster Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Mutiara Palu, Rio Marthadi yang ditemui Radar Sulteng tadi malam mengungkapkan, pada umumnya kondisi cuaca di Sulawesi Tengah (Sulteng) sejak pagi hingga sore harinya kurang bagus dan tidak bersahabat, khususnya di wilayah Sulawesi bagian timur. Di daerah tersebut terdapat tiupan angin yang tidak terarah dan potensi pertumbuhan awan-awan konvektif sangat besar. Terkait insiden terjatuhnya helikopter, kata Rio, kondisi cuaca pada saat heli terbang dan menuju ke Poso buruk. Menurutnya, sekitar pukul 17.00 saja mulai bertumbuhnya awan konvektif sekitar Danau Poso, Kecamatan Pamona dan bagian Lore. "Buruk sekali. Artinya awan konvektif sangat banyak. Jam lima sore saja kondisi cuaca sangat tidak memungkinkan untuk penerbangan berangkat ke Poso,” jelas Rio. Lanjutnya, pertumbuhan awan konvektif mulai membesar mulai pukul 17.20 hingga 17.40 wita, bahkan ditambah dengan adanya angin dari daerah timur laut seperti dari Ampana dan Luwuk, membuat pertumbuhan awan konvektif semakin meningkat di kawasan Poso, Lore dan Napu. "Sudah timbul awan konvektif ditambah lagi dari sana daerah Luwuk dan Ampana, maka semakin buruk lah cuaca di sekitar Poso," sebutnya. Rio mengatakan, sekitar pukul 18.00 saat terjadi awan konvektif semakin dominan yang dapat mengakibatkan terjadinya petir, hujan deras dan angin yang tidak terarah. "Kecepatannya angin sekitar pukul 17 mencapai 40 knot atau 20 meter per detik. Anginnya seperti belalai gajah yang muter-muter," pungkasnya. (agg/bud/acm)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

