Di Kebumen, Petani Porang Tanggeran, Sruweng Panen 2,4 Ton, Dihargai Rp 7 Ribu/Kg
PANEN: Petani Desa Tanggeran berhasil memanen porang. SAEFUR/KEBUMEN EKSPRES
KEBUMEN - Petani porang atau iles-iles di Dukuh Karangsambung RT 2 RW 4 Desa Tanggeran, Kecamatan Sruweng, berhasil memanen buah porang sebanyak 2.473 Kg atau hampir 2,5 ton.
Umbi porang komoditas ekspor yang ditanam selama delapan bulan, digarap lima orang petani. Budi daya tanaman ini di lahan seluas 80 ubin.
https://radarbanyumas.co.id/budidaya-porang-semakin-diminati/
https://radarbanyumas.co.id/ajukan-hak-paten-nanas-madu-sebagai-produk-daerah-bupati-pemalang-jadi-ikon-ekonomi-meningkat/
Latif As Salaf, salah satu petani porang mengatakan, awal menanam porang usai melihat market dan trend budidaya tanaman porang meningkat di media sosial.
Petani Jenitri asal Sruweng ini banting setir. Karena biji jenitri yang dulu laku hingga miliaran rupiah kini hanya di angka puluhan ribu timbangan perkilogram.
"Dulu saya menanam jenitri, namun karena pandemi biji jenitri kurang laku karena tidak ada bayer asing datang untuk membeli. Akhirnya saya mencoba nanam porang yang lagi hits," katanya.
Latif mengaku, ia berhasil membudidayakan tanaman porang selama 8 bulan tumpang sari antara pohon jenitri dan palawija. Bibit porang atau dikenal dengan biji katak dibelinya dengan harga Rp 300 ribu rupiah per kilogram dari wilayah Kabupaten Wonosobo.
Hasil panen yang mencapai 2.473 kilogram ini dihargai sekitar Rp 7.000 per kilogram. Sedangkan harga jual porang basah di tahun sebelumnya mendapat Rp 10 ribu per kg.
Untuk menjaga hasil panen porang aman dari pembusukan, Latif menyarankan umbi porang pasca panen disimpan ditempat yang kering dan tidak lembab.
Rahmanto mengatakan, saat ini porang menjadi salah satu komoditas pertanian yang sangat potensial untuk dikembangkan, karena permintaan pasar luar negeri terhadap umbi tanaman ini cukup tinggi.
“Sebelumnya masyarakat mengenal tanaman porang ini hanya sebagai tanaman tumbuh liar dan nyaris tidak termanfaatkan. Namun ternyata nilai ekonomi tanaman tersebut cukup menjanjikan dan ini buktinya panen perdana bisa tembus 2 ton itu belum kita panen semua hanya memilih umbinya sudah besar,” ujarnya. (fur)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

