Banner v.2

Desa Grenggeng Jadi Percontohan Nasional Program Rice Journey

Desa Grenggeng Jadi Percontohan Nasional Program Rice Journey

Diksusi Tata Kelola Komoditas Beras yang digelar Kemenko Pangan bersama BRIN di Trio Azana Style Hotel Kebumen, Kebumen, Jawa Tengah (Jateng), Senin (27/7).--

KEBUMEN - Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar  ditetapkan sebagai salah satu lokasi percontohan nasional implementasi Program Rice Journey. Ini sebuah inovasi pengelolaan beras berbasis data yang dikembangkan untuk memperkuat ketahanan pangan Indonesia.

Program tersebut merupakan kolaborasi antara Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Pemerintah Kabupaten Kebumen, dan Ikatan Pemuda Penggerak Desa Indonesia (IPDA) sebagai mitra strategis dalam pelaksanaan di tingkat desa.

Staf Ahli Menteri Koordinator Bidang Pangan, Assoc Prof Dr Ir H Sugeng Santoso MT QRGP CGRE mengatakan transformasi tata kelola pangan nasional tidak cukup hanya meningkatkan produksi. Menurutnya, pengambilan keputusan pemerintah harus didukung sistem data yang akurat, terintegrasi, dan dapat diakses secara cepat.

"Transformasi tata kelola pangan harus dimulai dari transformasi data. Ketika data produksi, distribusi, stok hingga konsumsi terintegrasi dalam satu sistem, pemerintah memiliki dasar yang kuat untuk mengambil keputusan secara presisi dan responsif," ujar Sugeng Santoso, Selasa (28/7).

Dalam implementasinya, Kementerian Koordinator Bidang Pangan bersama BRIN mengembangkan Executive Decision Dashboard Rice Journey, sebuah Decision Support System (DSS) yang mampu memantau perjalanan beras secara menyeluruh, mulai dari proses budidaya, panen, penggilingan, penyimpanan, distribusi, hingga konsumsi masyarakat.

Dashboard tersebut dirancang menampilkan informasi secara real time sekaligus dilengkapi fitur analisis risiko, simulasi berbagai skenario kebijakan, hingga early warning system yang dapat mendeteksi potensi gangguan produksi, distribusi, maupun fluktuasi harga beras sejak dini.

Desa Grenggeng dipilih sebagai lokasi implementasi karena memiliki karakteristik pertanian yang dinilai representatif. Wilayah ini memiliki hamparan sawah produktif, kelompok tani yang aktif, serta ekosistem pertanian yang dinilai cocok menjadi model pengembangan tata kelola beras berbasis data.

Dalam pelaksanaan di lapangan, IPDA berperan mendampingi masyarakat desa, memperkuat kapasitas kelembagaan, memfasilitasi pengumpulan data pertanian, sekaligus membangun kolaborasi antara petani, pemerintah desa, pemerintah daerah, akademisi, hingga pemerintah pusat.

"Keterlibatan pemuda desa diharapkan mampu memastikan proses digitalisasi sektor pangan berjalan secara partisipatif, akurat, dan berkelanjutan," katanya. (mam)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: