Banner v.2

Sering Minum Herbal Saset? Waspadai Risiko Tersembunyi Ini

Sering Minum Herbal Saset? Waspadai Risiko Tersembunyi Ini

Di balik citranya yang alami dan aman, sejumlah studi menunjukkan obat herbal sachet memiliki potensi risiko kesehatan yang perlu diwaspadai.--

RADARBANYUMAS.DISWAY.ID - Obat herbal kemasan yang praktis dan terasa melegakan telah lama menjadi andalan banyak orang Indonesia saat masuk angin atau badan tidak fit. Namun, di balik citranya yang “alami dan aman”, sejumlah studi menunjukkan adanya potensi risiko kesehatan yang perlu diwaspadai, terutama jika dikonsumsi secara berlebihan.

Salah satu komposisi yang kerap ditemukan dalam obat herbal kemasan pengusir masuk angin adalah ekstrak kayu angin (Usnea missaminensis). Bahan ini mengandung senyawa aktif bernama asam usnat (usnic acid). Meskipun berasal dari alam, senyawa ini rupanya menyimpan risiko bagi organ hati jika terakumulasi dalam tubuh.

Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. apt. Agung Endro Nugroho, mengingatkan masyarakat agar tidak lengah hanya karena embel-embel “herbal”. “Obat alam itu tetap obat. Prinsipnya, semua zat bisa menjadi racun jika tidak digunakan secara tepat guna,” tegas Prof. Agung seperti dikutip dari laman resmi UGM. Ia menjelaskan bahwa tidak semua obat alam boleh dikonsumsi bebas, apalagi jika digabungkan dengan obat lain tanpa indikasi yang jelas.

Peringatan tersebut sejalan dengan temuan medis dari Memorial Sloan Kettering Cancer Center (MSKCC) di Amerika Serikat. Institusi riset ini menyatakan bahwa konsumsi suplemen yang mengandung asam usnat telah dikaitkan dengan kasus toksisitas hati yang cukup parah.

Mekanisme kerusakannya terjadi pada tingkat seluler. Asam usnat yang dikonsumsi berlebihan dapat memicu stres oksidatif yang merusak mitokondria, atau “pabrik energi” di dalam sel hati. Akibatnya, sel-sel hati kehabisan tenaga dan mengalami kerusakan.

Jurnal medis bergengsi Mayo Clinic Proceedings pernah mendokumentasikan kasus gagal hati akut pada pasien yang rutin mengonsumsi suplemen berbahan dasar asam usnat selama tiga bulan. Kondisi pasien tersebut memburuk dengan sangat cepat hingga membutuhkan transplantasi hati darurat untuk menyelamatkan nyawanya.

Merespons berbagai laporan efek samping yang fatal, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) bahkan pernah mengambil langkah tegas pada tahun 2001. FDA menarik peredaran produk suplemen yang mengandalkan asam usnat sebagai bahan utamanya.

Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memang mendorong pemanfaatan obat bahan alam, namun tetap dengan syarat ketat terkait keamanan dan mutu. Pemberdayaan atau pemanfaatan obat alam tetap harus menekankan pentingnya uji klinis dan pengawasan berlapis.

Prof. Agung menambahkan bahwa masyarakat harus menjadi konsumen yang cerdas. “Cek registrasi BPOM adalah langkah paling awal. Kalau tidak terdaftar, laporkan ke balai pengawas. Ini penting untuk melindungi masyarakat,” pesannya.

Pada akhirnya, obat herbal kemasan tetap bisa menjadi pilihan alternatif untuk meredakan gejala ringan yang sesaat. Namun, konsumsi yang berlebihan atau tanpa memahami kandungan di dalamnya justru bisa menimbulkan masalah kesehatan baru. Kuncinya sederhana, baca label dengan teliti, patuhi dosis anjuran, dan jangan pernah menganggap bahwa semua yang “alami” pasti aman dikonsumsi. (*)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: