Grobagan, Tradisi Warga Kebumen Rayakan Lebaran
Warga Kecamatan Buluspesantren merayakan momen lebaran dengan menggelar tradisi Grobagan--
KEBUMEN - Beragam cara dilakukan warga untuk merayakan datangnya hari raya Idul Fitri. Selain tradisi halal bihalal, berwisata menjadi salah satu "kegiatan wajib" lainnya.
Selama libur lebaran ini, warga berbondong-bondong ke obyek-obyek wisata di Kebumen. Jadi menarik melihat apa yang dilakukan warga Kecamatan Buluspesantren ini. Di setiap lebaran, mereka punya tradisi merayakan lebaran di Pantai Bocor Desa Setrojenar kecamatan setempat.
Menariknya, warga bersama-sama berangkat dengan iring-iringan kendaraan. Awalnya, warga menggunakan gerobak yang ditarik kuda. Selain itu, ada pula yang menggunakan dokar (kereta) kuda. Sebagai pelengkapnya, gerobak dan dokar itu dihias.
Momen ini sangat dinantikan warga. Mereka bahkan menyiapkan anggaran khusus. Saat lebaran tiba, mereka berpatungan. Bisa per RW atau per RT. Setiap kontingen menyewa kendaraan semampu mereka.
BACA JUGA:Pantai Mliwis Dipadati Wisatawan Saat Libur Lebaran
BACA JUGA:Jalur Pansela Jadi Alternatif Pemudik
Wijo (56), salah satu warga menyampaikan tradisi tersebut sudah turun temurun. Namun tidak semua desa di Kecamatan Buluspesantren menggelar tradisi ini. Hanya desa-desa yang berada di wilayah Timur, seperti Sangubanyu, Buluspesantren, Ampih Klapasawit atau Indrosari. Jadi bisa dikatakan, warga di desa-desa ini menggelarnya sudah lebih dari 3 dekade.
"Pelaksanaannya pun dipastikan pada H plus 2 Lebaran," ujarnya ditemui kemarin (23/3).
Dalam perkembangannya, seiring kemajuan zaman, warga mulai menggunakan kendaraan roda empat. Agar lebih meriah, kendaraan ini dilengkapi dengan sound system yang dibunyikan sepanjang jalan.
Khusus di lebaran tahun ini, mulai terlihat ada pergeseran. Selain kereta kuda yang masih dipertahankan, warga kini juga menyewa "soundsystem Horeg". Dentumannya begitu menggelegar dalam setiap meter rute yang mereka lewati.
BACA JUGA:Dua Hari, Tiga Orang Terseret Ombak di Perairan Kebumen
BACA JUGA:Proyek Jalan Nasional Kebumen Dihentikan
Pada Minggu (22/3), rombongan ini memadati jalan menuju obwis Pantai Setrojenar. "Agak macet sedikit tapi banyak juga warga senang karena ingin menonton," ujar Edi salah satu pengguna jalanAnwari, salah satu warga mengatakan, tradisi ini sudah berlangsung puluhan tahun. Dulunya, tradisi ini digelar berkaitan dengan Bupati Kebumen Arungbinang yang menggelar tumpengan di Pantai Selatan Kebumen.
Di masa kini, warga melaksanakan tradisi tersebut untuk nguri-uri budaya sekaligus merekatkan tali silaturahmi diantara mereka. Terutama warga perantauan dan warga setempat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

