Banner v.2

Khawatir Picu Bencana Lebih Besar, Pemerintah Diminta segera Tutup Tambang Emas Maut

Khawatir Picu Bencana Lebih Besar,  Pemerintah Diminta segera Tutup Tambang Emas Maut

Polisi tengah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) peristiwa longsor di Kecamatan Buayan..--

KEBUMEN- Sejumlah pihak turut menyesalkan adanya insiden tambang longsor hingga mengakibatkan penambang tewas di Kecamatan Buayan. Mereka pun mendesak agar tambang emas ilegal itu ditutup.

Salah satu tokoh Gerakan Sadar Lingkungan (GSL) Kecamatan Buayan, Ratimin mengaku ikut menyesalkan adanya kejadian meninggalnya seorang penambang akibat peristiwa longsor. 

Sebelum peristiwa itu terjadi, ujar Ratimin, ia telah mencoba mengingatkan. "Saya memang berusaha untuk mencoba menghubungi pihak desa  agar supaya melakukan upaya memberi peringatan terhadap penggali emas liar. Namun, belum juga diberi peringatan, musibah telanjur terjadi," ujarnya, kemarin (30/10).

Seperti diberitakan, seorang penambang emas asa Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Edi Sutamaji (47), meninggal saat beraktivitas di lokasi penambangan emas di kawasan perbukitan Dukuh Londeng, Desa Jladri, Kecamatan Buayan, Selasa (28/10).

Tanah di lokasi tambang mendadak longsor setelah diguyur hujan beberapa hari terakhir. Korban ditemukan tertimbun batu dan tanah di bawah tebing setinggi sekitar 50 meter. 

Ratimin pun berharap, bencana semacam ini menjadi pembelajaran bagi semua pihak. Dalam kasus ini, keberadaan tambang emas di Kecamatan Buayan berstatus ilegal. Dalam prakteknya, para pekerja atau penambang beraktivitas tanpa alat pengaman yang memadai. Hal ini berakibat fatal saat bencana terjadi.

Belum lagi, soal ancaman kerusakan lingkungan. Menurut Ratimin, aktivitas penambangan di lahan Perhutani itu membuat pemukiman warga telah terdampak. 

Terlebih, pihaknya telah meminta kepada pihak dan instansi terkait agar tambang emas ilegal di Kecamatan Buayan tersebut ditutup. Namun yang terjadi, tambang tetap dibiarkan beroperasi hingga bencana terjadi dan merenggut nyawa penambang. 

Bila terus dibiarkan, Ratimin khawatir bencana akan kembali terjadi. "Sekitar 23 tahun lalu telah terjadi longsor besar yang mengakibatkan banjir lumpur besar-besaran. Kami berharap pemerintah melakukan tindakan tegas dan menutup tambang," katanya. (cah)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: