Umbi Porang Busuk Karena Kadar Air Berlebih, Cek dan Ganti Bibit
BUSUK: petani sedang merawat umbi porang yang rerata busuk, dipicu hama dan suhu udara. (LUKMAN HAKIM/RDR.BJN)
JAWA TIMUR – Petani hutan di sekitar Bagian Kesatuan Pengelola Hutan (BKPH) Pradok sedang mengganti umbi porang yang busuk kemarin (26/12). Disebakan kondisi tanah dan hama ulat menyerang tanaman yang baru berusia sekitar 2 dua bulan itu.
Bendahara Lembaga Masayarakat Desa Hutan (LMDH) Ngunut, Lusiana menerangkan, umbi porang ditanam sejak November lalu, saat ini sudah mulai tumbuh, dan yang busuk diganti dengan baru. Petani secara rutin melakukan pengecekan setiap harinya.
“Kalau sudah busuk otomatis tidak akan tumbuh daun,” ungkapnya kemarin (26/12).
Lusiana menjelaskan, umbi porang yang busuk disebakan kondisi tanah kadar air berlebihan, tanah mudah erosi. Sehingga akar yang seharusnya tumbuh tidak dapat berkembang.
“Tanahnya ambyar, makanya banyak umbi yang kandas tumbuhnya tidak sama,” jelasnya.
Dia menambahkan, ada dua jenis umbi porang yang ditanam, yakni umbi besar dan kecil, yang sering banyak dilakukan penggantian adalah umbi yang kecil. Sedangkan umbi besar yang ditanam, rerata hasil pertumbuhannya baik. Setidaknya membutuhkan waktu 2 tahun untuk bisa memanen, namun belum sempat panen.
“Pada 2020 lalu juga tanam tapi gagal panen, banyak yang mati,” ungkapnya.
Sementara itu, Dwi Nurjayanti, warga Desa Klino, Kecamatan Sekar mengaku menanam porang, namun tidak terdapat satupun umbi yang ditanam mengalami busuk saat tanam. Menyarankan pada usia tanam untuk membeli umbi yang bagus dan lebih besar.
“Biasanya kalau terjadi pembusukan, pemebelian bibitnya yang kurang bagus,” terangnya.
https://radarbanyumas.co.id/bisnis-lesu-petani-porang-harus-paham-musim/
Sementara Itu, Ketua LMDH Krondonan Agus Silva menerangkan, permasalahan umbi membusuk bisa disebakan beberapa faktor, salah satunya kondisi tanah telalu becek.
Air yang menggenang tidak dapat keluar dari sekitar umbi, sehingga menyebakan umbi busuk. “Faktor terpenting dalam menanam porang adalah mengolah lahannya dahulu,” tegasnya.
Selain tanah, lanjut Agus, terdapat hama, yang menjadi faktor penghambat yakni ulat galing yang memakan daun muda. Namun, persoalan tersebut mudah diatasi dengan hanya memberikan insektisida. “Kalau secara alami petani saya belum pernah mengalami pembusukan, namun saat panen umbi, pernah ada pembusukan jadi bukan saat berada di tanah,” tuturnya. (luk/jawapos/ttg)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
