Sepenggal Kenangan Bersama Prof Ruby, “Sebagai Rektor Saya Harus Tegas, Sebagai Bapak...” (2/Tamat)
KENANGAN: Cover biografi Rubiyanto Misman yang bertajuk 'Memenuhi Panggilan Almamater'. ISTIMEWA
Tak tersanggah, Prof Rubiyanto Misman adalah rektor paling fenomenal dalam lintasan sejarah Unsoed. Bukan hanya karena langkah-langkahnya yang dikenal ngoboy dan sering keluar dari kelaziman birokrasi. Juga bukan hanya karena rasa handarbeni-nya yang begitu besar terhadap almamater, sehingga sering dijuluki sebagai orang paling Unsoed dibanding semua orang beridentitas Unsoed. Tetapi juga satu faktor lain: Ia menjabat rektor beriringan dengan masa pergolakan ‘98, yang sumbunya disulut dari balik tembok kampus.
Catatan: Jarot C. Setyoko
https://radarbanyumas.co.id/sepenggal-kenangan-bersama-prof-ruby-serupa-cinta-antara-bhisma-dan-pandawa-1/
Indonesia penghujung akhir 1997 hingga awal 1998. Kereta besar Orde Baru mulai oleng oleh hempasan krisis moneter yang tengah menghumbalangkan dunia. Setelah setahun lebih diredam oleh represi pasca peristiwa 27 Juli 1996, di punghujung tahun itu aktivis mahasiswa kembali menemukan jalan menuju lapangan demonstrasi. Di Purwokerto kami berkemas dengan mendeklarasikan Front Aksi Mahasiswa Purwokerto untuk Reformasi (FA-MPR). Ditengah hari yang pengap oleh kontrol dan larangan itu, cuitan kecil ‘anak-anak kurang gaweyan’ dari emper Warteg Unsoed tersebut terdengar bak terompet tantangan perang pada rejim yang berkuasa.
Dalam angin pancaroba seperti itulah, hubungan kami dengan Prof Ruby terajut secara unik. Jauh-dekat, keras-lembut, naik-turun hubungan kami dengan Prof Ruby terjadi secara fluktuatif dengan grafik yang ekstrem. Pada satu hari kami memandangnya sebagai repressive state apparatus (maaf hanya istilah Althuser satu ini yang saya ingat) yang ditugaskan rejim untuk membatasi kemerdekaan gerak dan intelektualitas kami. Pada hari yang lain, ia adalah seorang guru tempat kami meminta perlindungan, ketika taring kekuasaan terasa makin dekat mengancam leher.
https://radarbanyumas.co.id/obituari-prof-rubijanto-misman-bapak-anak-anak-dari-semua-penjuru-tanah-air/
Mulur-mungkret hubungan kami dengan Prof Ruby tergambar pada kejadian 26 Februari 1998. Saat itu hari Kamis, di jalan depan Gedung Rektorat yang memisahkan dengan lapangan pusat. Jumlah demonstran tak sebanyak biasanya. Mungkin hanya 500-an mahasiswa, atau bahkan lebih sedikit dari itu.
Tak ada hal yang luar biasa hingga pernyataan sikap dibacakan -- saya lupa pembacanya Kundy (Kundiyarto, ketua Sema Unsoed terpilih) atau Arif Wicaksana (Ketua Sema demisioner). “Kami mahasiswa Purwokerto menolak pencalonan kembali Saudara Soeharto sebagai presiden Republik Indonesia.”
Semua orang yang berkerumun di sekitar tempat unjuk rasa -- bahkan termasuk sebagian demonstran – mengernyitkan dahi mendengarnya. “Kekendelen kuwe,” seorang wartawan menyahut secara reflek.
Pernyataan sikap yang ‘kekendelen’ itu menjadikan Unsoed sebagai kampus keempat yang mahasiswanya menolak pencalonan Pak Harto. Setelah UI, UGM dan IPB. Dan sebenarnya poin penolakan pencalonan Pak Harto itu tidak masuk kesepakatan dalam rapat yang dilakukan pada malam sebelumnya. Kawan-kawan saya sendiri sesungguhnya ragu untuk mengambil poin itu. Tetapi karena saya yang selalu diberi tugas menyusun kalimat sekaligus mengetiknya, diam-diam saya masukkan poin tersebut tanpa sepengetahuan yang lain kecuali Uung (Bahrul Wicaksana, sekarang Direktur Search for Common Ground, NGO internasional yang bermarkas di Washington).
Malam hari usai rapat teklap di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Unsoed -- dulu sebelah barat lapangan Grendeng -- saya katakan pada Uung, selagi baru 3 kampus besar yang menolak Pak Harto, maka inilah saatnya Unsoed dan Purwokerto dihitung sebagai salahsatu episentrum gerakan mahasiswa Indonesia. Saya tak menyangka, Uung yang biasanya ngeyel kali ini menjawab ringan, “Sudah tulis aja. Soal resiko kita tanggung bareng lah.” Maka dengan mantap jiwa saya ketik poin itu, toh Kundy yang biasanya kebagian jatah membaca juga tak pernah tanya-tanya.
Hingga bakdal Azhar setelah berunjukrasa, semuanya berlalu seperti biasa. Seperti biasa pula, kami tinggal menunggu berita di koran-koran yang terbit keesokan harinya. Tetapi tak lama kemudian Kundy membawa kabar, saya, Arif dan dirinya dipanggil Prof Ruby ke Gedung Rektorat.
Akhirnya kami bertiga, ditambah Cueng (Sugeng Budiarto, sekarang manager pabrikan otomotif di Jakarta) dan didampingi Pak Ahmad Komari (waktu itu Purek Bidang Kemahasiswaan) menghadap Prof Ruby.
Saat itulah saya menyaksikan kemarahan Prof Ruby yang belum pernah saya lihat, dan tak pernah saya lihat lagi setelahnya. Singkat kata, Prof Ruby menegur kami dengan keras, atas pernyataan kami yang menolak pencalonan Pak Harto. Lalu berulang-ulang ia bertanya, siapa yang mempunyai ide memasukkan item itu dalam pernyataan sikap.
Hadeuh, nyawa saya serasa terbang seketika. Tetapi karena tidak ada yang menjawab, dan didorong naluri ngeyel seorang aktivis akhirnya saya mengakui, bahwa itu ide saya dan saya siap bertanggungjawab jika ada akibatnya.
Saya berharap -- seperti dalam sinetron anak-anak di televisi, jika ada murid yang jujur dan mau bertanggungjawab, kemarahan seorang guru akan mereda dengan sendirinya. Tetapi dugaan saya keliru, Prof Ruby malah bertambah marah.
“Kau kira hanya kamu yang berani mati? Tentara-tentara yang kamu lawan itu lebih siap mati dibanding kamu. Mereka sudah terbukti di Timor-Timur, kalau kamu buktinya apa? Kamu kira setelah kamu masuk penjara dan saya dipecat sebagai rektor, persoalan sudah selesai? Jangan bodoh, Unsoed secara institusi juga akan menanggung akibatnya! Bukankah kamu sendiri sering ngomong, pemerintah seperti apa yang sedang kamu lawan itu!”. Pokok-pokok teguran Prof Ruby itu masih saya ingat betul.
Setelah itu hingga kami keluar ruangan tak ada lagi kata-kata yang dari mulut kami. Seketika saat itu kami kecewa, sebab anggapan kami Prof Ruby lebih memposisikan diri sebagai aparat kekuasaan dibanding sebagai guru intelektual kami. Toh hanya berjeda hari – setelah merenungi dan mendiskusikannya, kami bisa memaklumi itulah yang harus dilakukan Prof Ruby sebagai pemimpin kampus. Ia tidak sedang membela siapapun, kecuali membela almamater yang sedang dipimpinnya. Waktu itu pun kami juga menyadari, perbuatan kami bisa merugikan satu kampus.
Hanya saja, sebagai ‘anak nakal’ yang telah bertahun-tahun berkutat di organisasi pergerakan, kami juga meyakini takdir sejarah lah yang mengharuskan kami mengambil sikap itu. Hingga di hari yang lain -- kalau tidak keliru saat diskusi buku terjemahan “Pengkianatan Kaum Cendekiawan” karya Julien Benda di PKM, Prof Ruby berkata pada kami, “Sebagai seorang rektor saya harus tegas terhadap perbuatan kalian, ini demi melindungi almamater kalian sendiri. Tetapi sebagai seorang bapak, saya menghargai pilihan kalian.” Kali itu sepenuhnya ia tampak sebagai guru sekaligus bapak di mata kami. (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

