Dua desa di Banjarnegara jadi dapur produksi kaos Tanah Abang
Dua desa menjahit pasar Nusantara, Banjarnegara, Jumat (28/11).-Pujud Andriastanto/Radar Banyumas-
Di balik ramainya peredaran kaos di Tanah Abang dan sejumlah pasar besar di Indonesia, tersimpan fakta mengejutka, sebagian besar barang itu diproduksi di dua desa kecil di Banjarnegara, tepatnya Desa Kebutuhduwur dan Desa Kebutuhjurang, Kecamatan Pagedongan.
PUJUD ANDRIASTANTO, Banjarnegara
Suara mesin jahit terdengar lebih dulu sebelum mata menangkap wujud sumbernya. Dengungnya menyelinap dari celah-celah rumah, dari teras, dari bangunan gedongan hingga dapur-dapur sederhana di Desa Kebutuhduwur dan Kebutuhjurang, Kecamatan Pagedongan.
Siang itu, kedua desa seolah bergerak serempak, mengubah gulungan kain menjadi pakaian yang kelak beredar di pasar-pasar besar Indonesia.
Yang mungkin tak disadari banyak orang, kaos-kaos polos yang menumpuk di kios Tanah Abang, bahkan sebagian yang merantau sampai Malaysia, lahir dari tangan-tangan warga desa di sisi selatan Banjarnegara ini.
BACA JUGA:Melihat Ayam Berkaki Tiga Kades Kedondong, Unik dan Diyakini Bawa Hoki
Bukan pabrik besar yang mendominasi pemandangan, melainkan rumah-rumah warga. Di halaman depan, seorang ibu mengobras sambil sesekali menyeka peluh.
Di ruang tamu rumah lain, sekelompok remaja melipat dan memberi label. Di sebuah pendopo kecil, para bapak bercakap tipis-tipis sambil menyetrika tumpukan pakaian yang siap masuk proses packing. Konveksi bukan sekadar pekerjaan di dua desa ini ia sudah menjadi denyut kehidupan.
Aris, warga Kebutuhduwur, menyaksikan perubahan itu sejak lebih dari satu dekade lalu. Dari rumah produksinya, ia bercerita bagaimana desa yang dulunya bertumpu pada kapulaga, kini menemukan nadi ekonomi baru.
“Sebagian besar warga di Kebutuhduwur dan Kebutuhjurang memang bekerja di konveksi, Jadi di sini hanya produksi. Bahan, pola, aksesorinya semua dari Jakarta. Setelah jadi, dikirim lagi ke Jakarta. ” ujarnya, Jumat (28/11/2025).
Arus pekerjaan tak pernah benar-benar berhenti. Setiap tiga hari sekali, produksi memuncak pada prosesi pengiriman. Truk-truk datang bergantian, lima sekaligus dalam sekali keberangkatan. Dari dua desa kecil itu, tak kurang dari 90 ribu potong kaos dibawa ke gudang vendor di ibu kota.
“Bukan cuma dari tempat saya. Kalau semua usaha di dua desa ini mengirim, jumlahnya bisa sampai 90 ribu sekali kirim, Jadi dalam seminggu, ya ratusan ribu potong kaos.” tutur Aris.
Dari gudang di Jakarta, kaos-kaos itu mengalir ke Tanah Abang pasar grosir terbesar di Indonesia sebelum akhirnya tersebar ke berbagai kota. Ada pula yang melintasi batas negara dan tiba di pasar-pasar Malaysia.
“Setelah di Jakarta, yang jual bukan kami. Kita hanya kirim ke gudang. Biasanya dari gudang ke Tanah Abang, pasar-pasar di Indonesia, dan ada juga yang dikirim ke Malaysia.” kata Aris.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
