Budaya Masyarakat Agraris Mulai Terlupakan karena Modernisasi Pertanian
Lomba kotekan lesung antar RT di Desa Onje, kecamatan Mrebet.-Aditya/Radar Banyumas-
Seni Tradisi Kotekan Lesung di Desa Onje, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga
DESA Onje, Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga memiliki tradisi kotekan lesung. Seni budaya yang dilaksanakan setiap kali musim panen tiga di salah satu desa tertua di Kabupaten Purbalingga tersebut.
ADITYA WISNU WARDANA, Purbalingga
Suara lesung dengan irama dan nada yang memanjakan telinga terdengar di Balai Desa Onje, Kamis, 21 Agustus 2025 malam. Suara lesung merdu tersebut berasal dari Lomba Kotekan Lesung Antar-RT Pemerintah Desa Onje.
Kepala Desa Onje Mugi Ari Purnomo mengatakan, lomba tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah desa dalam melestarikan budaya yang dikenal sebagai masyarakat agraris atau pertanian.
"Leluhur kita hingga sekarang dikenal sebagi petani yang ulung. Nah, lesung ini merupakan salah satu simbol dari majunya budaya agraris di negara kita," katanya.
BACA JUGA:Sempat Kena Mental dan Cemas, Kini Dapat Dua Emas, Kisah Najib Raih Prestasi di Ajang Peparpeda
Dia menjelaskan, kotekan lesung merupakan hiburan para petani zaman dahulu di sela-sela mereka menumbuk padi menjadi beras. Kotekan lesung juga selalu dibunyikan saat gelaran Festival Desa Onje.
Diketahui, lesung merupakan sebuah wadah yang terbuat dari batangan pohon yang digunakan sebagai tempat menumbuk padi. Alat penumbuknya adalah sebuah batang kayu yang disebut Alu.
Lesung dan alu merupakan untuk menumbuk padi menjadi beras. Keseharian para petani menumbuk padi itu juga diselingi dengan sebuah hiburan untuk menghilangkan kejenuhan, yakni dengan kotekan lesung adalah salah satunya.
"Sambil menumbuk padi para petani juga memukul-mukulkan alu pada lesung secara berirama. Sehingga menghasilkan irama tabuhan yang menarik," ujarnya.
BACA JUGA:Pesanan Pin Garuda Jelang 17 Agustus Sepi, Pengrajin Kuningan Pasir Wetan Terpuruk
Para petani akan bersenandung untuk mengiringi irama tabuhan kotekan lesung, yang mereka mainkan. Mereka juga akan menggerakkan badannya sambil mengikuti alunan irama dari lagunya.
"Sehingga suasana bekerja pun akan menjadi lebih menyenangkan, karena dilakukan dengan penuh kegembiraan dan kebersamaan," lanjutnya.
Namun, kotekan lesung saat ini, masih jarang terdengar di Desa Onje. Hanya, warga lanjut usia yang masih mengenal seni tradisi ini. Karena lesung dan alu sudah tergantikan oleh mesin penggiling padi, yang jamak digunakan di era modernisasi pertanian.
Namun, mereka masih membunyikan kotekan lesung di momen-momen tertentu. Salah satunya saat kegiatan Festival Desa Onje, yang digelar satu tahun sekali.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

