Banner v.2

Stok Tak Stabil, Harga Cabai Masih Tinggi

Stok Tak Stabil, Harga Cabai Masih Tinggi

PEDAS : Pembeli di Pasar Sidodadi sedang membeli cabai dan keperluan lainnya. RAYKADIAH/RADARMAS CILACAP - Harga cabai di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Cilacap, terus mengalami kenaikan selama sebulan terakhir. Di Pasar Sidodadi, harga cabai rawit menyentuh angka Rp 70 ribu per kilogram. Lalu harga cabai merah keriting yang sebelumnya Rp 43 ribu per kilogramnya, kini mencapai Rp 48 hingga Rp 50 ribu per kilogram. "Harga komoditas cabai terus mengalami kenaikan sejak sebulan terakhir, kalau harga cabai itu naik turun, gak mesti setiap harinya," ungkap Joni, pedagang di Pasar Sidodadi. Menurutnya, kondisi tersebut menyebabkan jual beli di pasar tidak stabil. Sehingga ia kesusahan untuk menjual komoditas cabai. "Kita jadi kesusahan karena hanya tidak stabil. Kondisi pasar juga sedang cukup sepi," kata dia. Kepala Seksi Stabilitas Harga dan Kemetrologian, Dinas Perdagangan, Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (DPKUKM) Cilacap, Warsun mengatakan, harga cabai di Kabupaten Cilacap sedang mengalami kenaikan. Pihaknya menghimbau kepada para pedagang untuk mencari stok lain, agar stok di pasaran bisa tercukupi. "Kepada pemasok menghimbau untuk mencari alternatif produksi cabai hijau sendiri. Sehingga pemasok berjalan dengan lancar," kata dia. Dia juga mengatakan, harga komoditas cabai memang paling fluktuatif. Salah satu penyebabnya yakni jumlah produksi yang belum bisa stabil di setiap waktunya. Harga cabai baik menurun atau melambung dipengaruhi ketersedian stok cabai, kriteria yang pokok yang mempengaruhi harga dan pasar adalah ketersediaan barang itu sendiri," ujarnya. Pemerintah telah melakukan upaya-upaya untuk menstabilkan harga tersebut. Namun bukan melalui operasi pasar. Pasalnya bila dibandingkan komoditas lain, operasi pasar tidak akan efektif. "Untuk upaya dari pemerintah menganahi stabilitas cabai belum pernah dilakukan. Karena dianggap terkait produksi yang ada dan cabai termasuk barang yang tidak tahan lama . Sehingga pemeritah, petani atau kelompok tani tidak bisa menyiapkan untuk stok operasi pasar," ucapnya. (ray)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: