Terpilih Secara Aklamasi, Arief Dwi Kusumawardhana Kembali Pimpin Golkar Banyumas
TERPILIH AKLAMASI. Arief Dwi Kusumawardhana (dua dari kanan) terpilih secara aklamasi menjadi Ketua DPD Golkar Kabupaten Banyumas. -JUNI R/RADARMAS-
PURWOKERTO, RADARBANYUMAS.CO.ID - Arief Dwi Kusumawardhana terpilih secara aklamasi menjadi Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Banyumas, pada Musyawarah Daerah (Musda) XI DPD Partai Golkar Kabupaten Banyumas Tahun 2025, Minggu 5 Oktober 2025 di Hotel Aston Purwokerto. Menaikkan jumlah kursi legislatif, menjadi salah satu target utamanya, paska kembali memimpin partai berlogo pohon beringin itu.
"Yang paling utama memang kita mengembalikan kursi di dapil yang kosong yaitu dapil 6 yang hilang, sehingga kemudian kita nambah lagi kemudian balik lagi seperti tahun 2019 itu target paling minim," kata dia.
Ia menuturkan, untuk dapil satu ia Golkar punya tren mendulang suara yang cukup bagus. Ini menurutnya, untuk mendapatkan target tujuh kursi legislatif cukup masuk akal.
"Tapi target minimal 6 kursi balik 6 kursi," ujarnya.
BACA JUGA:Terpilih Aklamasi, Hj Tenny Juliawati Kembali Pimpin Partai Golkar Purbalingga
Dalam bursa pemilihan Ketua DPD Golkar Kabupaten Banyumas ia sebut, tidak ada nama lain selain dirinya.
"Mungkin karena teman-teman juga sudah sudah sudah komit, sudah sepakat," jelasnya.
Sementara itu, Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Jawa Tengah Mohammad Saleh menuturkan, Musda Golkar Kabupaten Banyumas merupakan Musda yang ke - 17.
"Jadi terakhir kita yang ke-16 adalah Wonogiri. Hari ini kita adalah Musda di Banyumas, tentu kami sudah mengecek bahwa yang daftar cuma satu yaitu mas Pangki (sapaan Arief Dwi Kusumawardhana)
Insya allah ini musyawarah mufakat," jelasnya.
BACA JUGA:Musda Partai Golkar Purbalingga Dipastikan Aklamasi, Hj Tenny Juliawati Calon Tunggal
Ia menjelaskan, pihaknya mendorong untuk pemilihan Ketua DPD Golkar agar dilakukan dengan musyawarah mufakat.
"Jadi Golkar ini sudah punya pengalaman panjang. Bahwa Musda kalau kita laksanakan dengan pemungutan suara itu setelahnya pasti ada residu, yang kalah itu kalah satu suara kalah dua suara itu dampaknya adalah pasti ada kalau tidak dia pindah, dia tidak lagi bersama dengan partainya," paparnya.
Oleh karena itu, ia menekankan untuk musyawarah mufakat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

