Jejak Etnobotani Suku Lampung dalam Membangun Rumah Adat
Oleh: Dosen Program Studi Biologi, Fakultas Sains, Institut Teknologi Sumatera, Sovia Santi Leksikowati, S.Si., M.Sc.
RADARBANYUMAS.CO.ID - Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversitas atau negara dengan keanekaragaman hayati tinggi yang juga identik dengan keragaman budaya. Lebih dari 1.300 suku bangsa tersebar di berbagai wilayah di negara ini, dengan masing-masing mempunyai kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Salah satunya adalah Suku Lampung yang terdapat di wilayah Lampung Barat, yang hingga saat ini masih memanfaatkan berbagai spesies tumbuhan untuk memenuhi kebutuhan dan kelangsungan hidupnya, termasuk dalam hal membangun rumah adat.
Rumah adat Lampung memiliki bentuk rumah panggung yang sebenarnya bukan sekadar bangunan, namun juga merefleksikan filosofi hidup yang selaras dengan alam. Masyarakat lokal di wilayah Sumatera memanfaatkan hutan di sekitar permukiman sebagai sumber kayu bangunan sehingga kajian etnobotani menjadi penting untuk dilakukan dalam rangka menciptakan sistem pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan.
Etnobotani memungkinkan terbentuknya suatu kajian untuk mempelajari hubungan antara manusia dan tumbuhan, secara lebih spesifik terhadap bagaimana manusia memanfaatkan berbagai tumbuhan untuk keperluan hidupnya.
Batang tumbuhan atau kayu menjadi material utama yang berperan menopang konstruksi rumah adat Lampung. Beberapa jenis pohon dengan kualitas kayu yang kuat dan tahan lama telah dimanfaatkan oleh Suku Lampung seperti medang (Litsea sp.), kenitu (Chrysophyllum cainito), kemit atau cempaka (Michelia champaca), meranti (Shorea sp.), kurut (Dysoxylum parasiticum), dan pelupuh betung (Dendrocalamus asper), serta rumbia atau aren (Arenga pinnata) yang dimanfaatkan serabut pelepahnya untuk membuat atap rumah adat.
Kayu digunakan untuk membuat tiang, dinding, atap, dan lantai bangunan rumah adat. Pemilihan kayu dilakukan dengan berbagai pertimbangan seperti melihat usia pohon, sehingga tidak merusak regenerasi pohon-pohon di hutan. Hal ini menjadi bentuk nyata kearifan lokal Suku Lampung dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Kayu medang digunakan untuk membuat usuk rumah hingga rangka pintu dan jendela. Jenis kayu ini terkenal awet dan tahan serangan bubuk serta memiliki penampilan kayu yang baik. Pohon kenitu selain menghasilkan buah, juga menghasilkan kayu keras untuk struktur bangunan rumah adat. Kayu kemit atau cempaka dikenal kuat dan memiliki aroma khas.
Dalam budaya Lampung, kayu cempaka sering dipakai untuk membuat tiang dan balok. Meranti menjadi salah satu kayu unggulan yang digunakan untuk membuat dinding dan lantai rumah panggung. Jenis kayunya keras dan terkenal sebagai material penyangga utama pada rumah adat. Kayu lainnya yang dimanfaatkan dalam pembangunan rumah adat Lampung adalah kurut.
Selain kayu, bambu juga menjadi bahan baku utama dalam konstruksi rumah adat Lampung. Pelupuh betung yang merupakan bambu berdiameter besar, dimanfaatkan oleh Suku Lampung untuk membuat pagar, dinding, bahkan langit-langit pada rumah adat.
Batang bambu dibelah dan dianyam untuk menghasilkan dinding rumah yang kokoh namun tetap ringan, sementara kulit batang bambu dijadikan langit-langit atau kerangka atap. Bambu dipilih sebagai bahan bangunan bukan hanya karena kelimpahannya di alam, namun juga karakternya yang lentur, kuat, dan memiliki pertumbuhan yang cepat dengan proses reproduksi yang singkat.
Bagian atap rumah adat Lampung terbuat dari ijuk, yaitu serabut hitam yang menyelubungi batang pohon aren, khususnya pada bagian pangkal pelepah. Ijuk terkenal memiliki karakteristik fisik kuat, tahan lama, tahan air, tidak mudah lapuk, dan tahan rayap, serta mampu menahan panas. Seiring perkembangan zaman, banyak rumah adat di Lampung yang saat ini menggunakan genteng atau seng, meskipun bentuk atap rumah adatnya tetap dipertahankan agar tidak menghilangkan nilai estetika tradisional.
Pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan bangunan dalam rumah adat bukan sekadar menjadi pilihan praktis, namun juga mencerminkan keterikatan budaya masyarakat lokal dengan sumber daya alam sekitar, meskipun modernisasi membuat banyak praktik budaya tradisional mulai ditinggalkan.
Proses pewarisan budaya masyarakat lokal yang dilakukan secara lisan membuat regenerasi pelaku budaya sulit dijalankan, sehingga konsekuensi besarnya adalah hilangnya nilai kebudayaan tersebut. Hal ini menjadikan proses dokumentasi pemanfaatan tumbuhan yang dalam hal ini berperan dalam konstruksi bahan bangunan rumah adat menjadi penting untuk dilakukan.
Alasan utama pentingnya dokumentasi kearifan lokal adalah untuk mendukung keberlanjutan budaya yang berjalan selaras dengan aspek ekologi. Pengetahuan lokal tentang pemanfaatan tumbuhan dapat menjadi solusi efektif mengenai material ramah lingkungan di era perubahan iklim yang saat ini melanda Indonesia.
Pengetahuan lokal juga mendukung praktik pelestarian hutan dengan mengajarkan masyarakat bagaimana mengambil tumbuhan seperlunya sesuai kebutuhan dan menanam kembali setelah memanen. Rumah adat Lampung menjadi salah satu bukti bahwa kearifan lokal dalam pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan bangunan mampu menciptakan harmoni antara manusia dan alam. Dalam modernisasi yang saat ini berjalan, praktik budaya ini layak dihidupkan kembali, selain untuk melestarikan budaya, juga untuk menjaga keberlanjutan ekosistem di bumi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

