Banner v.2

Belajar Fenomena Etiolasi pada Tanaman Cabai Rawit

Belajar Fenomena Etiolasi pada Tanaman Cabai Rawit

 

Oleh Dosen Program Studi Biologi, Fakultas Sains, Institut Teknologi Sumatera, Sovia Santi Leksikowati, S.Si., M.Sc.

RADARBANYUMAS.CO.ID - Siapa yang tidak mengenal cabai rawit? Bahan pelengkap bumbu dapur yang sangat diandalkan untuk berbagai masakan di Indonesia. Selain itu, komoditas hortikultura ini sangat bernilai tinggi sehingga terus menjadi primadona di pasar.

Permintaan cabai rawit selalu tinggi sehingga petani mulai mencari cara agar produksinya di lahan menjadi maksimal. Faktor lingkungan yang sering kali luput dari perhatian padahal perannya sangat menentukan pertumbuhan adalah cahaya matahari.

Aktivitas Pembelajaran Berbasis Proyek dari Program Studi Biologi, Fakultas Sains, Institut Teknologi Sumatera telah mengungkap fakta menarik bahwa cahaya dengan berbagai intensitas memberikan pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan tanaman cabai rawit.

Tanaman sama halnya seperti pabrik hidup yang menghasilkan bahan makanan melalui proses fotosintesis, di mana cahaya berperan sebagai sumber energinya. Intensitas cahaya rendah dapat memberikan dampak kerja yang lambat pada pabrik, sementara intensitas cahaya sangat tinggi akan merusak mesin produksi di pabrik tersebut. Berdasarkan ilustrasi sederhana ini, maka intensitas cahaya yang sesuai dibutuhkan agar tanaman tumbuh secara optimal.

Percobaan berbasis eksperimen di greenhouse dilakukan dengan menumbuhkan tanaman cabai rawit pada kondisi terang, ternaung, dan gelap. Kondisi terang memungkinkan tanaman memperoleh cahaya normal tanpa adanya naungan atau tutupan dari tanaman atau perangkat lainnya.

Kondisi ini berperan sebagai kontrol. Kondisi ternaung diberikan melalui pemberian naungan buatan dengan paranet sehingga tanaman memperoleh intensitas cahaya yang lebih rendah daripada kondisi normal. Kondisi gelap pada tanaman mengacu pada keadaan di mana tanaman tidak mendapatkan cahaya yang cukup serta lebih rendah dari kondisi ternaung.

Fenomena fisiologis tanaman yang menarik dan dipelajari dalam eksperimen ini dikenal dengan istilah etiolasi. Etiolasi merupakan pertumbuhan suatu tanaman yang tidak normal akibat tidak tercukupinya kebutuhan cahaya. Adapun karakteristik yang teramati antara lain batang tumbuh memanjang, lemah atau tidak kokoh, warnanya pucat serta daunnya berukuran kecil.

Empat karakteristik pertumbuhan yang diamati dalam proyek ini adalah tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, dan luas daun. Tanaman cabai yang tumbuh pada kondisi ternaung dan kondisi gelap menunjukkan fisik tanaman yang lebih tinggi dibandingkan yang dibudidaya pada kondisi terang. Pemanjangan batang tanaman tercatat sebesar 11% pada kondisi ternaung dan 30% pada kondisi gelap.

Semakin rendah intensitas cahaya yang diterima tanaman cabai, maka tinggi tanaman semakin meningkat. Tanaman menghindari naungan dengan memanjangkan batangnya untuk memaksimalkan penangkapan cahaya di sekitar tanaman. Mekanisme ini dalam bidang fisiologi tumbuhan disebut dengan respons penghindaran naungan (shade avoidance response).

Dua kondisi cahaya rendah yaitu kondisi ternaung dan gelap menyebabkan jumlah daun tanaman cabai lebih sedikit dibandingkan kondisi terang. Intensitas cahaya yang semakin rendah mengakibatkan jumlah daun semakin menurun. Miniriset mencatat penurunan jumlah daun terjadi sebesar 21% dan 27% masing-masing pada kondisi ternaung dan gelap.

Kondisi ini terjadi karena laju fotosintesis pada tanaman berkurang sehingga produksi energi dan bahan organik yang selayaknya digunakan untuk pertumbuhan daun baru menjadi tidak tersedia. Energi yang terbatas membuat tanaman menghemat produksi daun baru. Penurunan jumlah daun berimbas pada berkurangnya biomassa total tanaman.

Organ tanaman di bawah permukaan tanah yaitu akar juga terkena dampak dari penurunan intensitas cahaya yang diterima tanaman. Semakin rendah intensitas cahaya, maka panjang akar semakin pendek. Penurunan panjang akar pada kondisi ternaung diamati sebesar 31%, sementara pada kondisi gelap sebesar 39%.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: