Banner v.2

Book Binding Abad ke-11, Dari Banyumas ke Mancanegara

Book Binding Abad ke-11, Dari Banyumas ke Mancanegara

MANTAP: Buku jilid tangan karya Leny yang telah dijual hingga luar negeri. Produk Selalu Ditunggu, Tak Produksi Tema Serupa Beragam produk kreatif handmade dari kertas menjamur di pasaran. Leny Indah (27) menangkap peluang usaha berbahan dasar kertas dengan gaya berbeda. FIJRI RAHMAWATI, BANYUMAS Leny kini mengemas karya kerajinan kertas menjadi sebuah buku. Bukan sembarang buku pastinya. Hasil buatan tangannya selalu dinanti. Lulusan arsitektur itu mulanya menawarkan solusi atas keresahan penggunaan buku tulis. Buku tebal berat ketika dibawa. Juga sulit saat dilipat. Dari kondisi tersebut, tercipta ide book binding. Leny mulai mengembangkan metode binding yang disebut coptic stitch pada 2019 lalu. Coptic stitch merupakan metode jilid yang digunakan pada abad ke-11. Diperkenalkan pertama kali oleh kaum Copt di Mesir. Perempuan yang berdomisili di Sumampir, Purwokerto itu menceritakan pemasaran produknya melalui open order. Pembuatan book binding berdasar tema. "Tema book binding berbeda setiap memproduksi dan limited edition. Paling banyak membuat sekitar 30 buku," kata Leny. Coptic stitch adalah metode jilid dekoratif yang memiliki keuntungan dalam penggunaannya. Setebal apapun buku, halaman akan terbuka secara flat. Selain itu, dapat dilipat dengan perputaran 360 derajat. Sebab, chain stitch pada punggung buku memudahkan transformasi bergerak lebih bebas. https://radarbanyumas.co.id/toko-buku-bekas-ans-di-purwokerto-tetap-bertahan-hampir-30-tahun-cetakan-buku-lama-dan-kertas-yang-usang-makin-dicari/ Leny ingin hasil jerih payahnya menjadi istimewa. Oleh karena itu, tema book binding yang telah terjual, tidak diproduksi kembali. Dari strategi itu kreasi Leny menjadi buruan. Pertanyaan mengenai waktu launching produk dan tema berikutnya kerap mendarat di ponselnya atau dalam obrolan tatap muka. MANTAP: Buku jilid tangan karya Leny yang telah dijual hingga luar negeri. "Teman yang di Singapura juga membeli buku yang saya buat. Setiap tema sold out," beber Leny. Bagi alumni UNS itu, book binding adalah proyek suka-suka dan riang gembira. Sebagai salah satu penyegaran pikiran dari penatnya pekerjaan. Oleh karena itu, pengerjaannya pun sesukanya Leny. Dari tema, desain hingga finishing. Pemilihan material juga menjadi hal penting dalam mempresentasikan hasil produk. Dipilih bookpaper atau kertas novel sebagai isi buku. Lalu, cover dari beermat atau bubur kertas dengan daya serap tinggi. Kedua material tersebut mempunyai keunggulan yang ringan. Sehingga, meski buku tebal tetap nyaman dibawa. Sedangkan untuk penjilidan buku, Leny memanfaatkan benang sulam. Saddle stitch sebagai metode jilid buku yang dilipat kemudian dijilid menjadi satu pada garis lipat. Produk Leny oleh pembeli digunakan untuk alat tulis keseharian. Ada juga yang menyimpan sebagai koleksi. Terlalu sayang ketika lembar kertas terdapat coretan. Selain itu, kado untuk orang spesial. Salah satu yang sudah menjajal karya Leny adalah Satrio Hapsoro. Menurutnya, buku yang dijilid secara manual memiliki keunikan tersendiri. "Buku enak sekali dipakai, tetap flat walaupun dilipat," tuturnya. (fij)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: