Rugi, TPST Sumpiuh Tak Produksi Sampah RDF
JADI BERNILAI: Ketua TPST Sumpiuh menunjukan cacahan plastik kresek hasil mesin baru. FIJRI/RADARMAS
SUMPIUH - Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Sumpiuh, selama ini tidak memproduksi sampah rdf. Sebab, kalkulasinya rugi. RDF merupakan teknologi pengolahan sampah melalui proses homogenizers menjadi ukuran yang lebih kecil.
"Satu dump truk sampah plastik cacahan untuk rdf dihargai Rp 50 ribu. Sampah, kami yang mengantar. Kalau dihitung biaya operasional tidak ketemu," rinci Ketua TPST Sumpiuh Sutarno, Kamis (14/10).
Sehingga, TPST memilih menjual sendiri sampah plastik yang memiliki nilai ekonomis. Sebab lebih efektif. Tidak harus mengeluarkan biaya operasional.
https://radarbanyumas.co.id/rsud-banyumas-stop-langganan-pendapatan-ksm-tpst-sumpiuh-anjlok/
"Sampah plastik ada orang mengambil ke TPST," imbuh Sutarno di hanggar.
Meskipun demikian, mesin pencacah sampah plastik untuk rdf dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyumas masih dipertahankan di TPST Sumpiuh. Agar suatu ketika diharuskan mencacah masih mempunyai mesin.
Sementara itu, TPST Sumpiuh memperoleh bantuan satu unit mesin pencacah plastik. Dikatakan Sutarno sudah diujicoba dan hasilnya memuaskan.
Kini sedang persiapan tempat dan perlengkapan pendukung lain untuk operasional mesin pencacah. Hasil cacahan plastik dijual ke BIJ.
"Mesin pencacah baru untuk sampah plastik kresek," imbuh Sutarno.
Dengan adanya penambahan mesin pencacah sampah baru, diharapkan dapat meningkatkan pengelolaan sampah di TPST Sumpiuh. (fij)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

