Seniman Jemblung Nganggur Selama Pandemi
NGANGGUR: Seniman Jemblung memperlihatkan tanda terdaftar organisasi kesenian Kabupaten Banyumas.
Seniman menjadi salah satu terdampak wabah corona virus. Salah satunya, seniman Jemblung. Randam, pelaku seni Jemblung menuturkan sejak virus merebak. Tidak ada lagi orang yang memesan pertunjukan.
"Selama ada corona ini, sama sekali belum pernah pentas. Berhenti total. Tidak ada yang menganggap Jemblung," ujar Pimpinan Seni Jemblung, Randam, di rumahnya di Desa Karangpucung Kecamatan Tambak, Kamis (15/10).
Meski penyelenggaraan hajatan sudah kembali berjalan. Namun, tidak dibarengi dengan adanya pesanan untuk pentas Jemblung. Hal tersebut membuatnya prihatin.
Sebab, ketika dalam kondisi normal atau sebelum ada pandemi corona virus. Setiap bulan selalu ada yang menggunakan jasa kelompok seni Jemblung Randam.
Bagi mantan Perangkat Desa Karangpucung itu, melokoni diri sebagai seniman Jemblung bukan semata untuk mendapatkan uang. Lebih dari itu, Randam beserta lima orang lainnya yang tergabung dalam Ponco Tresno Budoyo ingin melestarikan budaya Banyumasan.
https://radarbanyumas.co.id/curhatan-seniman-ciblek-kaget-selama-jadi-seniman-belum-pernah-berbulan-bulan-tidak-kerja/
Pasalnya, kesenian Jemblung nyaris punah. Pelaku seni Jemblung kesulitan regenerasi. Di saat bersamaan, pelaku seni memasuki usia lanjut. Generasi muda belum ada yang tertarik untuk bergabung dalam Ponco Tresno Budoyo.
"Sejak ada corona, juga jarang sekali latihan. Bisa lupa lakon jemblungan kalau lama tidak latihan. Kami berusaha untuk menguri-uri budaya Banyumasan," tutur Randam.
Randam menceritakan menggeluti kesenian Jemblung mewarisi orang tuanya. Bapaknya Randam seorang seniman Jemblung. Sehingga, terpanggil untuk meneruskan peninggalan bapaknya. Agar tidak sampai hilang tertelan zaman. (fij)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
