Banner v.2

Teknologi Superbodi Bikin Sukses Panen Kedelai

Teknologi Superbodi Bikin Sukses Panen Kedelai

Prof. Ir. Totok Agung Dwi Haryanto, M.P., Ph.D dan tim desa binaan Fakultas Pertanian Unsoed mendampingi petani menerapkan teknologi superbodi BANYUMAS - Saat masa kemarau paska musim tanam, biasanya tanah tadah hujan akan sulit menumbuhkan hasil pertanian. Tapi itu tak berlaku bagi petani di Wlahar Wetan. Dengan teknologi superbodi, mereka sukses menanam dan panen kedelai. Adalah Prof. Ir. Totok Agung Dwi Haryanto, M.P., Ph.D dan tim desa binaan Fakultas Pertanian Unsoed yang mendampingi petani menerapkan teknologi ini. Panen perdana dengan penerapan teknologi Superbodi itu digelar Rabu (26/8) di area persawahan Desa Wlahar Wetan, Kecamatan Kalibagor Kabupaten Banyumas. Mereka yang ikut hadir ialah Prof. Ir. Totok Agung Dwi Haryanto, M.P., Ph.D bersama tim desa binaan Faperta Unsoed, Wakil Dekan III Faperta, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kab Banyumas, Perwakilan Kecamatan Kalibagor, Kepala Desa Wlahar, dan undangan. Totok Agung mengatakan, istilah Superbodi merupakan akronim dari masukkan benih di pertengahan bonggol/bedogol padi. Tanaman kedelai yang ditanam setelah musim tanaman padi, karena ketersediaan air yang tidak tersedia harus ada cara yang beda. Yakni ketika tanaman padi dipangkas dimana bonggol setinggi 3 cm kemudian langsung diberi benih kedelai. "Keuntungannya adalah kedelai walaupun kekeringan karena musim kemarau, biji kedelai masih bisa berkecambah dengan baik. Itu karena didukung oleh bonggol tanaman padi sebelumnya yang mempersiapkan kelembaban cukup sampai panen," papar Totok Agung. Biasanya, dengan teknik tanam biasa jika tanah kering dan retak maka akar kedelai akan patah sehingga akan mati. https://radarbanyumas.co.id/pentingnya-asuransi-pertanian-di-daerah-rawan-bencana/ Lebih lanjut Totok Agung mengungkapkan, keunggulan lain dari tanaman kedelai superbodi ini yaitu menghemat biaya karena tidak ada pengolahan tanah. Selain itu juga tidak ada pemupukan karena tanaman kedelai masih mampu memanfaatkan sisa pupuk yang diberikan pada tanaman padi sebelumnya. Keuntungan selanjutnya adalah tanaman kedelai ini mampu memutus siklus hidup hama / patogen penyebab penyakit pada tanaman padi. Selain itu tanaman kedelai juga mampu mengikat Nitrogen dari udara, dan memanfaatkan sisa waktu yang biasanya petani tidak menanam lagi karena sudah tidak tersedia air lagi. "Kami prediksi dengan menggunakan metode ubinan kira-kira mencapai 1,4 -1,5 ton per hektar, dengan harga Rp 7 ribu sampai Rp 8 ribu perkilogram. Dan itu diperoleh oleh para petani dari panen kedelai ini dengan tidak mengeluarkan biaya untuk pengolahan tanah, untuk pemupukan dan sebagainya, sehingga petani hanya merawat tanaman," jelasnya. Kepala Desa Wlahar Wetan atas nama masyarakat Wlahar Wetan mengucapkan terima kasih kepada Fakultas Pertanian Unsoed yang menerapkan teknologi superbodi tanaman Kedelai, dan hari ini panen perdana. Dia menyampaikan bahwa Fakultas Pertanian Unsoed telah membimbing, mengarahkan dan membantu kepada petani Desa Wlahar Wetan. "Hari ini adalah sudah 3 bulan lebih sejak penaman kedelai dan bisa melakukan panen dengan kondisi kualitas yang sangat bagus, tidak hama satupun, dan berbiji dengan baik," ungkapnya. (wwn)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: