Aboge di Banjarpanepen Pertahankan Tradisi
Ambeng atau nasi dan lauk dalam wadah tenong yang dibawa oleh setiap warga. (FIJRI RAHMAWATI/RADARMAS)
SUMPIUH-Penganut Islam Aboge di Desa Banjarpanepen Kecamatan Sumpiuh pertahankan tradisi Bada. Sejumlah warga menyelenggarakan selamatan di kediaman sesepuh adat, Miarso (68).
Menjelang siang, warga berdatangan dengan membawa tenong. Isi tenong adalah ambeng, dalam bahasa setempat yang berarti nasi beserta lauk pauk.
"Setelah melaksanakan perintah untuk berpuasa selama sebulan lamanya. Kami menyelenggarakan ritual Bada, memohon keselamatan dalam hidup pada Yang Kuasa," jelas sesepuh penganut Islam Aboge Desa Banjarpanepen Miarso.
Kegiatan berlangsung khidmat ketika sesepuh memberikan wejangan pada warga. Diantaranya bahwa hakikat hidup adalah tentang sabar dan menerima. Dua hal yang sulit untuk dilakukan oleh umat manusia.
Diceritakan Miarso, penganut Islam Aboge baru merayakan Hari Raya Idul Fitri pada Senin, 25 Mei 2020 selang satu hari dari ketetapan pemerintah. Hal tersebut berdasarkan perhitungan kalender Alif Rebo Wage (Aboge).
Adat Bada sudah turun temurun dari nenek moyang. Miarso menyatakan sebagai generasi penerus berupaya untuk nguri-uri budaya Jawa. Sehingga, tidak hilang tergerus zaman.
"Tradisi Bada ini sudah berbeda jauh dari waktu ke waktu. Dulu ketika saya kecil, satu desa selamatan membuat ambeng. Sekarang tersisa di beberapa RT saja yang masih menjalani ritual Bada ini," tutur Miarso yang juga mantan kepala dusun.
Budaya Bada kali ini juga tidak sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya usai selamatan, warga saling bertandang ke rumah. Sesuai dengan anjuran pemerintah untuk mencegah terjadinya penularan virus corona, silaturahmi keliling lingkungan sekitar ditiadakan. (fij)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
