Banner v.2

Sentra Pertanian Organik, Limbah Kambing dan Sapi Belum Terkelola Maksimal

Sentra Pertanian Organik, Limbah Kambing dan Sapi Belum Terkelola Maksimal

Petani antusias mengikuti pelatihan pembuatan pupuk organik dari kotoran hewan kambing, Kamis (17/7) di komplek Kantor Kelurahan Sumpiuh. -FIJRI RAHMAWATI/RADARMAS-

BANYUMAS, RADARBANYUMAS.CO.ID - Limbah peternakan sapi dan kambing selama ini belum terkelola secara maksimal di wilayah Kelurahan Sumpiuh Kecamatan Sumpiuh. Termasuk di gerumbul Karet yang menjadi sentra petani padi organik.

Keberadaan kotoran hewan sapi dan kambing berpotensi menimbulkan bau tidak sedap yang mengganggu kenyamanan lingkungan. Juga, pencemaran air sumur sehingga tidak layak untuk konsumsi.

"Kami sudah memanfaatkan kotoran ayam untuk membuat pupuk organik. Sedangkan dari kotoran sapi dan kambing belum memiliki ilmunya," ujar Ketua Gabungan Petani Organik Sumpiuh (GATOS) Herman Raharjo, Kamis (17/7).

Oleh karena itu, petani memerlukan ilmu dan keterampilan untuk mengolah limbah peternakan menjadi pupuk organik. Guna menopang ketersediaan kompos.

BACA JUGA:Taj Yasin: Pengelolaan Limbah Rumah Potong Ayam Tabarruk Kudus Bisa Jadi Percontohan

Sehubungan dengan hal tersebut, petani antusias mengikuti pelatihan pembuatan pupuk organik berbahan dasar kotoran hewan ternak kambing. Kegiatan di komplek Kantor Kelurahan Sumpiuh yang digelar oleh salah satu universitas di Purwokerto.

"Setelah mengetahui ilmunya, petani bisa mengaplikasikan, banyak tersedia bahan baku kotoran kambing dan sapi," sambung Herman.

Luas lahan tanaman padi organik GATOS telah bertambah 200 ubin. Kini sudah mencapai 1,7 hektare. Namun disebut Herman sebagian hamparan terpisah.

Oleh karena itu, sedang diupayakan supaya di musim tanam berikutnya hamparan tanaman padi organik dapat terpusat di satu titik. (fij)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: