Yakini Pernah Jadi 'Kendaraan' Komunal Banjarnegara
Ikhtiar Azharudin Zadly Hidupkan Tradisi Berkuda
Azharudin Zadly ingin menghidupkan kembali tradisi berkuda di Kabupaten Banjarnegara. Ketua Mafaza Stable ini memiliki keyakinan, kuda merupakan kendaraan komunal warga Banjarnegara di masa lampau.
DARNO, Banjarnegara
Azharudin Zadly terlihat cekatan merawat kuda peliharaannya. Kuda betina bernama Sendang ini memang rajin dibersihkannya.
Dalam sehari, dia memberi makan hewan peliharaannya ini tiga kali. Untuk menu yang diberikan pada kuda tunggangan kesayangannya yaitu rumput, dedak dan polar.
Kandang kudanya terletak tak jauh dari kediamannya di Dusun Semampir Desa Kasilib Kecamatan Wanadadi. Tak hanya diberi makan, kuda juga butuh perhatian.
"Kuda merupakan hewan yang peka dan senang diperhatikan oleh sang pemilik," kata dia.
Azharudin Zadly menuturkan, kuda juga menunjukkan apakah orang pemberani atau tidak. Tidak semua orang berani menunggang kuda.
Dia memang gandrung dengan hewan yang mampu berlari kencang ini. Bahkan, dia bercita-cita mewujudkan 1.000 rider kuda di Banjarnegara. "
Sebenarnya kuda tidak asing bagi masyarakat Banjarnegara. Di Pucang ada Gilar-Gilar Stable, di Dieng ada Dieng Stable. Hipotesis saya kuda merupakan kendaraan komunal masyarakat Banjarnegara," ungkapnya.
https://radarbanyumas.co.id/mengenal-belva-zauqi-kristantra-belajar-di-youtube-kini-jadi-ksatria-panah-asal-banyumas/
Dia senang karena penggemar kuda terus bertambah. "Alhamdulillah setiap bulan ada tambahan kuda. Hari ini juga ada kuda baru lagi," paparnya.
Dikatakan, data Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Banjarnegara, saat ini sudah ada 40 ekor kuda. "Ini data Pordasi, di luar itu tentu ada," terangnya. Di level nasional, jumlah kuda juga mengalami peningkatan.
Mafaza Stable fokus pada kuda tunggang. Kuda jenis ini biasa dinaiki pemiliknya. Berbeda dengan kuda pacu yang hanya dinaiki oleh joki. Sedangkan pemilknya, jarang yang juga menjadi jokinya. Biaya perawatan kuda pacu juga lebih besar. "Kita juga fokus ternak," ungkapnya.
Saat ini ada dua kuda yang sedang bunting. Untuk harga satu ekor kuda antara Rp 30 juta sampai Rp 60 juta. Kuda yang dikembangkannya yaitu Kuda Poni Indonesia.
Selain gemar berkuda, Azharudin Zadly juga mendirikan Mafaza Archery School yang dibentuk sepulangnya dari Semarang. Waktu itu, pada tahun 2018 di Banjarnegara belum terbentuk Persatuan Panahan Seluruh Indonesia (Perpani).
"Perpani sebagai wadah resmi belum ada. Bersama rekan-rekan kemudian kita bentuk Perpani," jelasnya.
Saat ini, hampir seluruh atlet panahan Banjarnegara dari Mafaza Archery School. Memanah akan melatih konsentrasi. Selain itu, memanah juga menyenangkan.
"I shoot therefore I am happy," ungkapnya.
https://radarbanyumas.co.id/pemanah-muda-berlatih-bersama-pelatih-nasional/
Berkuda dan panahan merupakan dua olah raga yang bisa dikombinasikan atau dikenal dengan horse back archery. Dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi, memanah di atas kuda memerlukan latihan intens.
"Selain harus mahir berkuda, juga harus bisa membidik sasaran dengan tepat," tandasnya. (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
