Harga Minyak Tinggi, Pengusaha Kripik Stop Produksi
STOP: Sukini menunjukkan tempe yang akan dibuat menjadi keripik tempe. Usaha pembuatan keripik tempe yang dijalankannya berhenti tiga hari karena minyak goreng yang mahal dan sulit didapat. (DARNO/RADARMAS)
BANJARNEGARA - Harga minyak goreng yang mahal dan sulit didapat membuat pengusaha keripik tempe menghentikan produksi. Kenaikan harga minyak goreng yang terjadi berkali-kali, membuat pengusaha kesulitan menentukan harga jual.
“Dampaknya sangat luar biasa sekali. Kalau dulu kan satu karton minyak isi 18 liter kan harganya cuma Rp 185 ribu. Lah sekarang setiap hari naik, pengiriman terakhir dengan harga Rp 353 ribu per 18 liter,” kata pengusaha keripik tempe Suka Nicky dari Desa Gumiwang Kecamatan Purwanegara Sukini, Senin (17/1).
Dikatakan, selain mahal minyak goreng juga sulit didapat. "Jadi kadang kita sudah mau produksi, ternyata minyaknya ngga ada. Contoh hari ini, lagi ngga produksi karena minyaknya yang belum ada,” ungkapnya.
Menurut dia, usaha keripik tempenya sekitar tiga hari ini tidak produksi. Saat produksi, dalam satu hari biasanya dia memproduksi sekitar satu kuintal bahan jadi keripik tempe.
Dengan naiknya harga minyak goreng membuat dia harus menaikkan harga.
“Karena tidak mungkin kalau tidak menaikkan harga, karena minyak dari Rp 185 ribu ke Rp 353 ribu, kan hampir dua kali lipatnya. Jadi kita tetap menaikkan harga jual. Pembeli tetap ada, cuma kita kewalahan di minyaknya. Belum lagi harga kedelai juga mulai naik lagi. Dan yang sangat menyusahkan, kalau naik harganya stabil si ngga masalah. Tapi yang menyusahkan kami, harganya setiap hari naik. Itu kan kita susah menentukan harga jual,” jelasnya.
https://radarbanyumas.co.id/harga-bahan-pokok-di-banyumas-belum-stabil/
Dia menjelaskan harga kedelai naik dari Rp 7 ribu, sekarang Rp 10.500 per kilogram.
“Biasanya satu minggu, minimal lima atau enam kali menggoreng. Sekarang kan karena minyak lagi susah didapat, lagian mahal, terus saya harus komunikasi dulu dengan pelanggan kalau harga naik sekian, kira-kira di pasaran gimana kan harus dikomunikasikan dulu,” lanjutnya. (drn)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
