Banner v.2

Taufiq R Abdullah Ajak Santri Jadi Agen Penguatan Empat Pilar dengan Mengisi Ruang IT dan Media Sosial dengan

Taufiq R Abdullah Ajak Santri Jadi Agen Penguatan Empat Pilar dengan Mengisi Ruang IT dan Media Sosial dengan

Taufiq R Abdullah dalam kegiatan sosialisasi di Kabupaten Banjarnegara BANJARNEGARA - Anggota MPR RI Taufiq R Abdullah mengajak santri menjadi agen penguatan Empat Pilar. Salah satunya dengan mengisi ruang-ruang teknologi informasi dan media sosial dengan konten-konten agama yang selaras dengan nilai-nilai Empat Pilar MPR RI. Dalam kegiatan Sosialisasi yang diselenggarakan di Kabupaten Banjarnegara, Selasa (20/4), Taufiq R Abdullah menegaskan bahwa kalangan santri mesti memahami bahwa agama dan negara adalah dua sisi yang tak dapat terpisahkan. https://radarbanyumas.co.id/jalur-pucang-jenggawur-dirigid-beton/ "Penegasan tersebut penting. Jangan sampai ada penilaian bahwa mempelajari dan mengkaji nilai kebangsaan seperti Pancasila dan UUD 1945 dan Kebhinnekaan tidak ada nilai agamanya, begitupun sebaliknya," tegasnya. Taufiq R Abdullah mengatakan bagi santri, membangun pilar-pilar bangsa Indonesia bukanlah sesuatu hal yang baru. Bahkan sejak Indonesia belum menjadi sebuah negara yang merdeka, pesantren sebagai lembaga atau institusi tertua yang ada di negeri ini sudah banyak melahirkan peran penggerak dalam proses perubahan yang ada di masyarakat. "Peran santri untuk negeri ini sudah tidak perlu dipertanyakan lagi," ungkapnya. Menurut dia, santri adalah miniatur ummat Islam yang turut andil dalam perjuangan merebut kemerdekaan Republik Indonesia. Keterlibatan kalangan Pesantren, Kiai dan Santri dalam perjuangan tidak dapat dinafikan. "Kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari perjuangan para Kiai dan Santri, Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, rupanya bangsa penjajah tidak tinggal diam. Pendiri Nahdhatul Ulama Hadratus Syech KH. Hasyim As’ari bersama para Kyai dan Santri perwakilan NU di seluruh Jawa dan Madura menyerukan jihad melawan penjajah," tuturnya. Deklarasi itu terjadi pada tanggal 22 Oktober 1945. Deklarasi ini kemudian populer dengan istilah Fatwa Resolusi Jihad. Melalui Resolusi Jihad seruan perang suci yang diteriakkan untuk melawan penjajah yang ingin berkuasa kembali, yang membakar semangat Kiai dan Santri serta arek-arek Surabaya untuk menyerang markas penjajah yang kemudian menewaskan Jenderal Mallaby bersama pasukannya. Akibat dari pekikan semangat dan serangan para Santri tersebut meletuslah perang 10 November 1945. Peperangan sengit antara pasukan Inggris yang berhadapan dengan masyarakat pribumi yang didominasi oleh Kyai dan Santri. Dalam perang ini, ribuan Pahlawan gugur, darah berceceran di Surabaya dan perang sekitar tiga minggu tersebut dicatat sebagai perang terbesar sepanjang sejarah Nusantara. Peristiwa 10 November 1945 kemudian populer dengan sebutan Hari Pahlawan. Pengakuan Pemerintah terhadap peran Santri dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan dituangkan dalam Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 dengan menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri. Selanjutnya Hari Santri untuk pertama kalinya digelar pada tanggal 22 Oktober 2016 dengan tema “Dari Pesantren Untuk Indonesia”. Peran peran yang tercatat dalam sejarah ini, patut dijadikan cerminan reflekasi begitu kuatnya peran Santri untuk menentukan nasib bangsa ini. Dalam era modern sekarang ini, peran Santri juga sangat besar untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia. Di era yang sudah serba digital, tentunya banyak sekali yang membutuhkan peran Santri untuk mengisi ruang tersebut. Taufiq mengungkapkan ruang digital dan ruang internet kita masih banyak diisi dengan konten-konten yang kurang bermanfaat. "Bahkan masih banyak penyalahgunaan kontens dalam media internet kita seperti pornografi, penghasutan dan konten-konten yang bernuansa radikal intoleran yang dapat mengancam keutuhan umat bangsa Indonesia," paparnya. Oleh karena ini, Taufiq R Abdullah mengajak para Santri terjun secara maksimal untuk mengisi ruang digital. “Jangan hindari sosial media, tapi manfaatkan secara maksimal. Jadikan sosmed sebagai ladang dakwah kita untuk terus menggelorakan nilai-nilai persatuan dan kesatuan, nilai-nilai Kebhinnekaan agar cita-cita kemerdekaan untuk mewujudkan Indonesia yang sejahtera dan berkeadilan segera tercapai," lanjutnya. (drn)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: