Banner v.2

Ribuan Ikan Hias Mati Mendadak

Ribuan Ikan Hias Mati Mendadak

Kerugian Hingga Puluhan Juta Rupiah BANJARNEGARA – Ribuan ikan hias di Desa Karanganyar Kecamatan Kalibening mati mendadak. Hal ini diduga karena terserang Koi Herpes Virus (KHV). Akibatnya, petani ikan hias di desa tersebut merugi hingga puluhan juta rupiah. Salah satu petani ikan hias di Desa Karanganyar RT 2 RW 4 Sumarno mengatakan kejadian ini sudah terjadi sejak dua minggu lalu. Hingga saat ini, diperkirakan setiap hari paling sedikit 30 ekor ikan koi yang tengah dibudidayakan mati mendadak. “Saya memiliki lima kolam ikan koi. Kalau dirata-rata setiap harinya ada 32 ekor ikan yang mati,” tuturnya, Kamis (15/12). Padahal, saat ini harga ikan koi ukuran besar sekitar Rp 4 ribu per ekor. Sumarno mengaku tidak tahu pasti penyebab matinya ikan koi miliknya. Kondisi ini menimpa petani ikan ikan lain di desanya yang berkisar ada 40 kolam ikan hias Dikatakan, selama ini tidak ada tanda-tanda khusus ikan tersebut sebelum mati, hanya sedikit kurang aktif. Melihat kondisi ini, ia berharap agar pemerintah daerah segera mencari tahu penyebab matinya ikan peliharaanya. Mengingat budidaya ikan hias di sekitar tempat tinggalnya merupakan mata pencaharian utama warga. “Di Desa Karanganyar rata-rata budidaya ikan hias. Bahkan, untuk pemasarannya sudah mencapai di kawasan pantura,” lanjutnya. Terpisah, Kabid Perikanan pada Dinas Pertanian, Perikanan dan Perternakan Banjarnegara Andi Yau Sugihardjo mengatakan, pihaknya sudah membawa sampel ikan koi tersebut untuk diperiksa di laboratorium provinsi. Sebab, setelah dilakukan pemeriksaan air di kolam milik petani ikan hias masih layak. “Memang ada indikasi terkena KHV, tetapi kami tetap menunggu hasil tes laboratorium. Hasil kepastiannya sekitar satu minggu dari sekarang,” terangnya. Nantinya, lanjut Andi ketika sudah dipastikan gejalanya akan dilakukan penataan ulang. Sebab, untuk memberantas penyakit ikan tersebut harus menyeluruh. Selain itu, upaya pengembangan ikan hias di Desa Karanganyar di tahun 2017 sementara diundur. “Sebenarnya kalau ada persoalan seperti ini baiknya diganti dengan jenis ikan lainnya. Karena virus ini tidak menimpa jenis ikan lain. Persoalannya, petani ikan belum tentu mau. Tetapi, kami tetap akan menata ulang,” ujar dia. Sementara ini, untuk upaya pencegahan, petani diberikan vitamin dan obat untuk kekebalan ikan. Menurutnya, virus ini berkembang di bawah 26 drajat. “Nah di Desa Karanganyar ini, suhunya memang pas di angka 26 drajat, jadi ada kemungkinan terkena KHV,” tambah Andi. (uje/acd)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: