Dayakan, Tradisi Maulid Masyarakat Wiramastra
BANJARNEGARA - Dayakan sudah menjadi tradisi tahunan Desa Wiramastra Kecamatan Bawang, Banjarnegara. Tradisi ini juga sudah mendarah daging bagi masyarakat setempat. Tidka heran banyak warga Desa Wiramastra yang merantau rela pulang demi menonton atau ikut berpartisipasi dalam acara ini. Kepala Desa Wiramastra, Adib mengatakan tradisi Dayakan dimulai sejak tahun 1965. Ketika itu, Dayakan diselenggarakan sebagai penyeimbang PKI. Kegiatan ini diselenggarakan untuk menunjukkan persatuan ummat Islam. "Tujuannya untuk menarik kegiatan keagamaan," kata Adib. Menurut dia, saat tahun 1965 Peringatan Hari-hari Besar Islam (PHBI) selalu mendapat tantangan dan kurang mendapat simpati dari masyarakat. Sehingga tokoh ulama ketika itu berinisiatif melaksanakan karnaval untuk menarik simpati masyarakat. "Jamane perjuangane Mbah Nahrowi," kata Adib. Tradisi ini kini lebih dikenal dengan istilah Dayakan. Karnaval ini diikuti oleh anak-anak hingga orang dewasa. Masing-masing peserta berupaya menunjukkan kreativitasnya. Ada yang membuat ogoh-ogoh, ondel-ondel, pocong, dirias seperti pengantin dan aneka kreativitas lainnya. Tak ketinggalan pemuda setempat membawa seperangkat sound system dan lampu warna-warni saat Dayakan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Dayakan yang diselenggarakan Minggu (11/12) mengambil rute dari Masjid Desa Wiramastra menuju ke arah selatan menuju Wanadri dan Patoman. Lalu kembali lagi ke Masjid Wiramastra. Komarudin, seorang warga, mengaku pulang dari Jakarta karena ingin menonton tradisi ini. "Saya pulang agar bisa nonton Dayakan. Saya hanya ingin nonton tidak ikut tampil," kata dia. (drn/acd)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

