Cerita dan Harapan Penyintas Longsor Pandanarum
Suparyo (75), tengah berbincang dengan teman senasibnya di depan Pos Pengungsian Kecamatan Pandanarum, Selasa (18/11/2025).-DIMAS PRABOWO/RADARMAS-
BANJARNEGARA, RADARBANYUMAS.CO.ID -Suparyo, (75) dengan wajah lelah, duduk di depan posko pengungsian Kecamatan Pandanarum, bersama warga lainnya. Sesekali tertegun, kemudian berbincang, kemudian kembali tertegu. Ia salah satu warga Dusun Pringamba, Desa Pandanarum yang selamat dari longsor, tetapi istrinya, Tarni (65), belum kembali sejak Minggu sore, saat bencana itu menghancurkan dusun mereka.
Ketika Gubernur Jawa Tengah datang meninjau lokasi pengungsian, Suparyo berdiri dan mendekat. Ia tidak meminta bantuan logistik, tidak pula meminta perhatian khusus. Hanya satu permohonan yang keluar dengan suara lirih, “Pak, tolong carikan istri saya.”
Ia masih mengulang-ulang kejadian itu dalam kepalanya. Menjelang sore, hujan hanya rintik kecil, bahkan sebelumnya matahari sempat muncul. Ia duduk di teras rumah, sementara Tarni berada di loteng mengangkat jemuran. Lalu bumi bergemuruh. “Suara gede sekali. Debunya naik, batu-batu kecil itu suaranya kayak pelor (peluru) meletup-letup,” kenangnya.
Ia sempat terpaku beberapa detik yang terasa panjang. Dari kejauhan, tanah bergerak seperti ombak besar. “Saya langsung lari sekuat tenaga ke mushola. Istri saya belum sempat keluar,” katanya pelan.
BACA JUGA:Evakuasi Longsor Situkung Banjarnegara Dikebut, Gubernur Ahmad Luthfi Minta Waspadai Bencana Susulan
Dari mushola, ia melihat anak menantunya, Adat, berlari dikejar luncuran tanah. Bersamanya, terlihat seorang anak kecil yang ikut lari, namun saat Adat meraihnya, anak yang tidak diketahui siapa, hilang tertutup debu dalam sekejap.
“Pohon-pohon itu roboh, lalu berdiri, roboh lagi, kayak digulung,” ujarnya.
Suparyo lanjut berlari hingga tiba di dusun tetangga tanpa membawa apa pun selain pakaian yang melekat di badan. “Uang pun nggak bawa,” katanya. Di pengungsian, ia bertemu kembali dengan anak dan cucunya. Namun Tarni, perempuan yang menemaninya selama 52 tahun, belum ada kabar. Ia berharap istrinya berada di pengungsian lain.
Di sisi lain pengungsian, Taslim (43) merapatkan jaket tipisnya. Tiga hari sebelum bencana, ia baru pulang dari Cilacap, meninggalkan gerobak bakso untuk membantu panen jagung di desa. Waktu kejadian, ia duduk di halaman, sementara istrinya ada di dalam rumah dan putri semata wayangnya mengajar ngaji di rumah tetangga, sekitar 50 meter dari rumah mereka.
Begitu mendengar gemuruh, ia melihat anaknya berlari sambil menangis. “Saya tarik tangannya, terus teriak panggil istri saya. Nggak mikir apa-apa lagi,” tuturnya. Rumah Taslim berada sekitar 400 meter dari tebing yang runtuh.
Mereka memilih berlari ke arah selatan, memotong jalur luncuran longsor yang bergerak ke barat. “Kami naik bukit, masuk hutan. Lari terus sampai Dusun Gudang,” katanya. Perjalanan itu lebih dari satu kilometer, namun mereka berhasil selamat.
Sementara itu, di GOR Desa Beji, Tiem (55) duduk sila di atas matras. Suaranya sesekali terputus ketika menceritakan saudaranya yang hilang. “Sanak famili dan tetangga saya juga masih banyak yang belum ketemu.”
Ketika tanah berguncang, ia melihat pepohonan runtuh satu per satu, seperti domino yang jatuh tanpa jeda. “Saya lari. Kepikiran mau balik lagi, tapi rumah udah roboh semua. Udah nggak tersisa,” ucapnya sembari mengusap mata yang mulai berair.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
