Banner v.2

Dorong Hilirisasi, Pemkab Banjarnegara Genjot Kopi Arabika Kalibening Jadi Komoditas Unggulan

Dorong Hilirisasi, Pemkab Banjarnegara Genjot Kopi Arabika Kalibening Jadi Komoditas Unggulan

Bupati Banjarnegara saat melakukan kunjungan di pengolahan kopi arabika yang ada di wilayah Kecamatan Kalibening.-Kominfo Banjarnegara untuk Radarmas-

BANJARNEGARA, RADARBANYUMAS.CO.ID - Pemerintah Kabupaten Banjarnegara serius mengangkat kopi arabika Kalibening sebagai komoditas unggulan daerah. Tak hanya bernilai ekonomi tinggi, kopi khas pegunungan ini juga dianggap mampu menjaga kelestarian lingkungan di kawasan dataran tinggi Banjarnegara.

Bupati Banjarnegara dr. Amalia Desiana menegaskan, kopi arabika Kalibening memiliki cita rasa khas dan kualitas yang tak kalah dengan kopi daerah lain di Jawa Tengah.

Melalui sejumlah program, termasuk UPLAND Project, pemerintah mendorong agar petani tak berhenti di tahap produksi mentah, tetapi juga mampu mengolah hingga menghasilkan produk siap jual.

“Mudah-mudahan dengan adanya program UPLAND dan program lain di wilayah Kalibening ini bisa bermanfaat bagi warga,” ujar Bupati Amalia, Kamis (6/11/2025).

BACA JUGA:Warga Dawuhan Ubah Lereng Longsor Jadi Lahan Kopi Produktif

Dalam kunjungan tersebut, Bupati juga menyerahkan bantuan bibit kopi di Desa Bedana dan meresmikan rumah jemur kopi di Desa Karanganyar, yang dibangun melalui program UPLAND. Fasilitas ini dinilai penting untuk menjaga kualitas biji kopi agar kering sempurna dan bebas jamur.

“Rumah jemur ini salah satu upaya agar penjemuran lebih maksimal. Kalau dilakukan manual, potensi tumbuh jamur lebih besar. Dengan fasilitas ini, kopi bisa cepat kering dan terjaga kualitasnya,” jelasnya.

Rumah jemur berukuran 5×10 meter itu dilengkapi blower otomatis, memungkinkan proses pengeringan berlangsung cepat dan merata. Menurut Amalia, sistem ini dapat memangkas waktu produksi dan meningkatkan mutu hasil panen.

“Mudah-mudahan rumah jemur ini bisa memangkas waktu pengeringan dan memaksimalkan hasil panen kopi,” tambahnya.

BACA JUGA:Dosen Farmasi UMP Dorong UMKM Kopi AGS Melalui Inovasi Permen Herbal Jahe dan Kopi

Salah satu petani kopi Kalibening, Jito, mengaku bantuan tersebut membawa perubahan besar bagi para petani. Ia mengatakan, di musim hujan, proses penjemuran kopi secara manual bisa memakan waktu lebih dari sebulan.

“Kalau manual, keringnya bisa sampai 40 hari. Tapi dengan rumah jemur ini, cukup 10 sampai 15 hari kopi sudah kering maksimal,” ujarnya.

Di Desa Karanganyar sendiri terdapat lebih dari 300 petani kopi dengan luas lahan mencapai 70 hektare. Dengan adanya fasilitas baru dan dukungan pemerintah, para petani mulai optimistis bisa menghasilkan kopi dengan standar ekspor.

“Kami berharap kualitas kopi makin bagus dan ekonomi petani ikut meningkat,” kata Jito.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: