Warga Dawuhan Ubah Lereng Longsor Jadi Lahan Kopi Produktif
Petani kopi Dawuhan saat memanen kopi di wilayah lereng.-Pujud Andriastanto/Radar Banyumas-
BANJARNEGARA, RADARBANYUMAS.CO.ID - Perubahan besar terjadi di Desa Dawuhan, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara.
Daerah yang dulu dikenal rawan longsor kini justru menjadi sentra kopi arabika yang produktif. Semua berawal dari inisiatif warga setempat yang sejak 2012 memilih beralih dari menanam jagung ke tanaman kopi.
Perangkat Desa Dawuhan, Tuhri, menceritakan bahwa langkah ini muncul dari keprihatinan atas seringnya terjadi longsor di wilayah lereng. Tanaman jagung yang semula ditanam di lahan miring justru memperparah kondisi tanah.
“Dulunya di lereng-lereng warga menanam jagung, tapi tanahnya cepat tergerus air. Saat musim hujan sering longsor karena minim pohon besar,” ujarnya, Rabu (5/11/2025).
BACA JUGA:Kopi Asli Wonoharjo Jadi Ikon Mini Expo 2025
Untuk memperkuat struktur tanah, warga kemudian menanam kopi arabika. Setelah lebih dari satu dekade, hasilnya mulai terlihat. “Sekarang jarang sekali terjadi longsor dan tanah juga lebih kuat. Alhamdulillah, kopi justru memberi hasil ekonomi yang lebih baik,” lanjutnya.
Meski begitu, Tuhri mengakui upaya awalnya tidak mudah. Banyak warga ragu karena nilai jual kopi belum tinggi kala itu.
“Awalnya susah, banyak yang enggan beralih. Tapi setelah tahu nilai ekonominya dan kopi Dawuhan makin dikenal, sekarang semua semangat menanam kopi,” kata Tuhri.
Kini, Desa Dawuhan memiliki sekitar 25 hektare lahan kopi arabika, dengan 5 hektare di antaranya sudah produktif. Hasil panen dari lereng-lereng yang dulunya rawan bencana kini menjadi sumber penghidupan utama masyarakat.
BACA JUGA:Upland Project Dorong Petani Kopi dan Peternak Domba Banjarnegara Naik Kelas
Petani kopi lainnya, Nur Kodar, menuturkan bahwa tanaman kopi jauh lebih menguntungkan dibandingkan tanaman semusim seperti jagung atau sayuran.
“Kalau dihitung-hitung, kopi lebih optimal. Dulu banyak lahan kosong berbatu yang tidak menghasilkan, sekarang bisa ditanami dan jadi sumber penghasilan,” ujarnya.
Selain keuntungan ekonomi, Nur juga menilai penanaman kopi membawa manfaat ekologis. “Selain bisa dijual, kopi juga menjaga lingkungan. Sekarang hampir tidak ada erosi atau longsor seperti dulu,” tambahnya.
Upaya warga Dawuhan menjadi bukti bahwa adaptasi terhadap kondisi alam tak hanya menyelamatkan lingkungan, tapi juga meningkatkan kesejahteraan. Dari lahan rawan longsor, kini Dawuhan tumbuh sebagai desa produktif dengan aroma kopi arabika khas pegunungan Banjarnegara.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

