Banner v.2

Kisah Warga Banjarnegara Alami Trauma karena Terjebak Lowongan Palsu Kerja di Myanmar

Kisah Warga Banjarnegara Alami Trauma karena Terjebak Lowongan Palsu Kerja di Myanmar

PNP, korban kerja paksa di Myanmar yang berhasil pulang kerumahnya di Banjarnegara.-Pujud Andriastanto/Radar Banyumas-

BANJARNEGARA, RADARBANYUMAS.CO.ID - Kisah pilu dialami PNP (32), warga Banjarnegara, yang menjadi korban kerja paksa di Myanmar setelah terjebak lowongan kerja fiktif di media sosial. Dia baru saja kembali ke kampung halaman, tetapi tidak dengan tangan kosong melainkan membawa trauma, cerita kekerasan, dan utang perjalanan pulang.

“Saya tidak yakin bisa pulang kembali bertemu keluarga. Ini sungguh anugerah Tuhan yang luar biasa,” ujarnya, Rabu (16/7/2025).

Dia mengaku tertarik bekerja sebagai admin di perusahaan e-commerce di Thailand, setelah melihat tawaran pekerjaan dari akun Facebook bernama YUMI. Tanpa syarat khusus, dia dijanjikan gaji 25.000 Baht per bulan plus fasilitas makan dan tempat tinggal. Namun, tawaran itu berubah menjadi mimpi buruk. 

“Awalnya saya hanya ingin pekerjaan yang layak. Tapi sejak sampai di Bangkok dan dibawa masuk ke wilayah Myanmar, saya langsung merasa ada yang tidak beres,” ucap PNP.

BACA JUGA:SDN 10 Krandegan Banjarnegara Hanya Terima Dua Siswa

Setibanya di Myanmar, PNP dikawal orang-orang bersenjata laras panjang menuju perusahaan yang disebut-sebut bernama Yida Company. Di sinilah kehidupannya berubah drastis. Dia dan puluhan WNI lain dipaksa bekerja dengan target tinggi dan hukuman fisik sebagai konsekuensi jika gagal mencapainya.

“Saya disiksa. Kami semua disiksa. Kalau tak capai target, kami dipukuli. Bahkan ada yang dipaksa melihat teman sendiri disiksa sampai trauma,” ungkapnya.

Tak sendiri, PNP kini tinggal sementara bersama tiga korban lainnya, LSM, YKH, dan DZG, warga asal Sumatra yang berasal dari rombongan yang sama. Mereka semua memiliki cerita serupa tentang penyiksaan, intimidasi, hingga ancaman hilang paksa.

“Teman satu kamar saya pernah coba hubungi KBRI, tapi ketahuan. Malamnya dia disiksa, lalu dibawa pergi. Sampai sekarang kami tak tahu nasibnya. Itu kejadian yang sering terjadi,” tutur LSM.

BACA JUGA:Operasi Patuh Candi 2025 Banjarnegara Dimulai, Ini Daftar Pelanggaran Lalu Lintas yang Jadi Prioritas

LSM mengatakan, masih banyak warga Indonesia lainnya yang belum berhasil keluar dari kamp penyiksaan kerja paksa tersebut. Dia meminta perhatian serius dari pemerintah pusat.

“Pak Presiden, tolong yang masih di sana. Mereka belum bisa pulang dan tak tahu harus bagaimana,” katanya.

PNP dan tiga rekannya berhasil pulang ke Indonesia pada 9 Juli 2025, namun bukan tanpa perjuangan. Mereka harus membeli tiket sendiri, bahkan berutang demi bisa keluar dari Myanmar.

“Saya sementara tinggal di Banjarnegara, karena kehabisan ongkos. Kami butuh bantuan ongkos untuk kembali ke rumah,” ucapnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: