Manfaat Darah Biru Kepiting Tapal Kuda
Menurut penjelasan dari drh Slamet Raharjo, seorang Dosen Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, darah kepiting tapal kuda memiliki banyak manfaat, salah satunya adalah untuk pengecekan vaksin baru.
Dalam dunia medis, darah kepiting tapal kuda memiliki kandungan Limulus Amebocyte Lysate (LAL) yang digunakan untuk mengecek tingkat keamanan vaksin baru, termasuk vaksin Covid-19.
BACA JUGA:Pemkab Cilacap Usulkan Jembatan Gantung Permanen di Kampung Laut ke Kementerian PUPR
BACA JUGA:Budidaya Sidat dan Pertanian Kelengkeng di Kampung Laut, Cilacap Akan Dikembangkan untuk Ekowisata
Amebosit atau LAL yang terdapat dalam darah ini berperan penting dalam melindungi dari kuman penyebab penyakit. Tanpa zat tersebut, ilmuwan akan mengalami kesulitan untuk mengetahui apakah obat-obatan atau vaksin mengandung bakteri berbahaya seperti E-coli atau Salmonela.
Slamet juga menjelaskan bahwa ekstrak dalam sel darah kepiting tapal kuda akan bereaksi secara kimia terhadap bahan berbahaya, sehingga para ilmuwan menggunakannya untuk menguji apakah obat-obatan atau vaksin baru terbilang aman.
Pemanfaatan darah kepiting tapal kuda dalam dunia medis sudah berlangsung sejak beberapa dekade silam, khususnya sejak tahun 1970-an. Setiap tahun, ratusan ribu ekor kepiting tapal kuda ditangkap dan dibawa ke laboratorium di Amerika Serikat untuk diambil sebagian darahnya, sebelum kemudian dilepaskan kembali ke alam liar.
Kepiting Tapal Kuda Hewan Dilindungi
Darah biru kepiting tapal kuda memang menjadi perbincangan hangat, terutama dalam konteks manfaatnya dalam dunia medis dan bioteknologi. Namun, di balik manfaatnya yang besar, ada masalah yang perlu diperhatikan terkait dengan perlindungan dan konservasi spesies ini.
BACA JUGA:Jelajahi Pesona Wisata Bawah Laut Sabang
BACA JUGA:Lahan Tebu di Kampung Laut, Cilacap Terbakar, Penyebab Belum Diketahui
Ketika kepiting tapal kuda dibawa ke laboratorium untuk keperluan biomedis, sebagian darahnya akan diambil setelah ditusuk di sekitar organ hatinya. Proses ini menyebabkan sekitar 10-30 persen kepiting tersebut mati.
Lebih lanjut, pada kepiting tapal kuda betina, tindakan tersebut dapat menyebabkan kesulitan dalam menghasilkan anak, yang dapat mengancam populasi kepiting tapal kuda secara keseluruhan.
Di Indonesia, populasi kepiting tapal kuda telah termasuk dalam kategori critically endangered atau terancam punah. Bahkan, sejak tahun 1999, hewan ini telah dilindungi oleh Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 tahun 1999.