JAKARTA - Bareskrim Polri menduga kasus investasi bodong robot trading Fahrenheit berkantor di Indonesia.
Namun pihak polri belum memastikan di mana keberadaan lokasi kantor investasi bodong tersebut.
Pasalnya tim cyber di lapangan masih terus melakukan pendalamam kasus robot trading Fahrenheit tersebut.
“Iya kita duga markas (trading Fahrenheit) itu di Indonesia, ini masih di dalami,” kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Pol Whisnu Hermawan kepada wartawan, Rabu (23/3/2022).
Jendral bintang satu ini juga mengungkapkan, pihaknya masih belum bisa menyita aset-aset para pelaku termasuk aset bos utamanya, Hendry Susanto.
“Aset masih di dalami ya juga dengan kerugian (para korban), masih di dalami terus,” ujarnya.
Sebelumnya Polda Metro Jaya membongkar investasi bodong robot trading Fahrenheit.
Dalam kasus ini 4 pelaku berinisial D, ILJ, DBC, dan MF memiliki peran masing-masing dalam menjalankan investasi bodong tersebut.
Sedangkan satu pelaku yang sempat menjadi DPO bernama Hendry Susanto alias HS baru saja ditangkap oleh tim Bareskrim Polri.
HS sendiri merupakan Direktur PT FSP Akademi Pro. Perusahaan yang berdiri sejak 2019 lalu itu sebagai perusahaan pengelola dana korban investasi robot trading Fahrenheit.
Dengan begitu saat ini total 5 pelaku yang sudah ditangkap dari bisnis investasi robot trading Fahrenheit tersebut.
Adapun modus para pelaku menjalankan bisnis investasi bodong tersebut yaitu dengan slogan yang dikenal D4, yakni duduk, diam, dapat duit.
“Para pelakumemiliki slogan D4. Apa itu? Duduk, diam, dapat duit,” ungkap Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Kombes Pol Auliansyah Lubis kepada wartawan, Rabu (23/3/2022).
Dengan modus slogan D 4 ini, kata Auliansyah, banyak masyarakat tertarik untuk melakukan investasi di robot trading Fahrenheit tersebut.
Adapun keuntungan investasi dari para korban dijanjikan dengan perhitungannya 50 persen keuntungan diberikan kepada member atau anggota.
Sementara 50 persen untuk operasional Robot Trading Fahrenheit.
Dari kasus ini diduga kerugian yang dialami para korban mencapat 5 triliun rupiah.
“Jadi 50 persen untuk operasional Robot Trading Fahrenheit,” ujarnya.(fir/pojoksatu)