Industri Hulu Migas Tak Akan Pernah Ditinggalkan

Selasa 30-11-2021,13:38 WIB

TAK DITINGGAL: Sektor industri hulu migas dipastikan akan tetap berjalan meski ada saat ini sudah mulai melakukan transisi energi. JAWAPOS JAKARTA - Industri hulu migas tidak akan ditinggalkan saat transisi energi berjalan. Pasalnya, sektor ini juga menjadi salah satu pilar ekonomi Indonesia. Hal itu ditegaskan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif di acara The 2nd International Convention on Indonesian Upstream Oil and Gas (IOG 2021) di Nusa Dua, Bali, Senin (29/11). “Peranan industri hulu migas yang rendah harbon diharapkan bisa menjadi energi pada masa transisi ini. Karena, industri hulu migas yang rendah karbon merupakan visi dari industri fosil dalam era transisi ke depan,” ujar Arifin. Menurut Arifin, Indonesia sendiri saat terus menegaskan komitmen untuk mengusahakan peningkatan pengembangan dan penggunaan energi terbarukan, hal itu demi mencapai net zero emission pada 2060. “Pada masa transisi energi ini, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain masalah reability energi baru dan terbarukan yang memerlukan teknologi untuk menjaga intermittency,” jelasnya. Arifin juga menuturkan, berdasarkan hasil studi Universitas Indonesia (UI) atas dampak kegiatan usaha hulu migas tahun 2003-2017, Menteri Arifin Tasrif menyebut bahwa multiplier effect industri hulu migas terus meningkat. Karena sektor ini pada mulanya didesain untuk menghasilkan manfaat berupa penerimaan negara secara maksimal. “Seiring waktu kemudian dikembangkan menjadi salah satu mesin penggerak kegiatan penunjangnya, seperti perbankan, perhotelan dan sebagainya. Dalam perhitungan umum, setiap investasi sebesar USD1, menghasilkan dampak senilai USD1,6 yang dapat dinikmati oleh industri penunjangnya,” papar Arifin. Lebih lanjut Arifin juga mengatakan, selain memberikan dampak langsung, industri hulu migas (terutama gas) juga akan menjadi penyokong energi pada masa transisi. Karena selain untuk mendukung pertumbuhan permintaan energi, gas juga akan dikembangkan untuk menggantikan energi batu bara yang lebih banyak menghasilkan carbon. “Karena itu konsumsi gas di masa depan akan meningkat signifikan,” tukasnya. Senada dengan Arifin, Kepala SKK Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto mengatakan, upaya untuk menurunkan emisi dan memanfaatkan penangkapan karbon sudah menjadi sebuah keharusan. Hal ini mengingat low carbon initiatives dan transisi energi menuju Net Zero Emissio (NZE) sudah menjadi kesepakatan antarnegara dalam COP26. https://radarbanyumas.co.id/pemerintah-tekan-penurunan-emisi-gas-rumah-kaca-di-sektor-forestry-and-other-land-uses-dan-energi/ Namun, lanjut Dwi, upaya menuju transisi energi harus didukung dengan roadmap yang jelas. Hal ini untuk menghindari menghindari munculnya energi berbiaya mahal atau bahkan kelangkaan energi. “Untuk mendukung pertumbuhan perekonomian Indonesia, pemenuhan energi yang terjangkau adalah sebuah keharusan. Sebagai upaya untuk mencapai smooth transition. Industri Hulu Migas berusaha memberikan karya terbaiknya melalui visi bersama untuk mewujudkan target pencapaian produksi jangka panjang,” tutur Dwi di acara IOG 2021, Nusa Dua, Bali, Senin (29/11).(dim/jpc)

Tags :
Kategori :

Terkait