BANJARNEGARA – Desa Jalatunda Kecamatan Mandiraja menjadi Desa Digital pertama se Indonesia. Desa Jalatunda sebelumnya merupakan desa tertinggal dalam berbagai aspek.
Kepala Desa Jalatunda Kecamatan Mandiraja Satam mengatakan mengatakan kondisi internet yang ada di Desa Jalatunda saat ini sangat memprihatinkan.
“Seperti Pemerintahan Desa Jalatunda, setiap hari mengalami blank, tidak bisa bekerja. Mudah-mudahan kehadiran PT Wira Bakti Nagari untuk membangun Desa Digital atau Desa Internet bisa terlaksana,” kata dia saat launching Desa Digital Jalatunda, Senin (17/1).
Pada era digital saat ini, layanan kepada masyarakat sangat membutuhkan koneksi internet.
“Misal mencetak Kartu Keluarga, Akta Kelahiran, Akta Kematian sangat susah sekali karena jaringan internet yang blank. Mudah-mudahan dengan kehadiran PT Wira Bakti Nagari bisa menjawab persoalan yang ada,” ungkapnya. Launching diikuti delapan desa di Kecamatan Mandiraja dan dua desa si Kecamatan Purwanegara.
Internet juga sangat dibutuhkan oleh para siswa untuk belajar online. “Untuk belajar online, anak-anak mencari sinyal di gunung, di kebun, di sawah, di ladang agar bisa mengikuti pelajaran secara online,” paparnya.
Dikatakan, Desa Jalatunda ditetapkan Desa Digital pertama se Indonesia. “PT Wira Bakti Nagari fokus launching di Jalatunda untuk menjadi Desa Digital pertama,” terangnya. Perusahaan tersebut menyediakan paket internet dan dikelola oleh BUMDes.
“Kami percayakan kepada BUMDes untuk mengelola Desa Digital. Untuk bersama sama pertanggung jawabannya,” ujarnya.
Dikatakan, dahulu Jalatunda merupakan desa tertinggal. “Dari segala-galanya tertinggal. Alhamdulillah sejak saya menjabat kepala desa sejak 2007 sampai sekarang, ada perkembangan-perkembangan yang bisa dinikmati masyarakat,” terangnya.
Direktur Utama PT Wira Bakti Nagari H. Idrus Lasimpala mengatakan dalam pembangunan jaringan internet ini, pihaknya berinvestasi di desa-desa.
“Jadi kami bangun, desa tidak langsung bayar ke kami. Kami bangun dulu sampai beroperasi 100 persen, maintenancenya kami jalankan. Pembayarannya dari hasil penjualan kuota, penjualan paket data ke masyarakat atau provider lain,” jelasnya.
Dikatakan, investasi di Kecamatan Mandiraja kurang lebih Rp 3 miliar. “Semuanya biayanya kami keluarkan sendiri, dari kantong pribadi kami. Jadi tidak mempergunakan Dana Desa atau dana lain. Karena kami sudah berhitung dengan hasil penjualan data kepada masyarakat, sudah bisa membayar kepada kami,” terangnya.
https://radarbanyumas.co.id/pemkab-purbalingga-luncurkan-desa-digital/
Pihaknya tidak mau mengatakan teknologi lain tidak bagus. “Kalau soal teknologi, saya tidak mau bilang teknologi saya yang paling hebat,” ungkapnya. Namun nanti bukti yang akan berbicara.
“Kami sudah berani membangun dengan biaya kami sendiri agar tidak ada blank sinyal. Mungkin sistem kami dan radio kami yang pertama di Indonesia,” terangnya. Dengan keunggulan teknologi yang ada, dia optimis dana yang diinvestasikan akan segera balik modal. (drn)