BEKTEN : Masyarakat penghayat Kalikudi jalan kaki sejauh 20 kilometer untuk melakukan kegiatan bekten di Pesangrahan Daun Lumbung. RAYKADIAH/RADARMAS
CILACAP- Awan mendung saat matahari mulai terbit, membuat Kota Cilacap mendadak gelap. Pagi itu, masyarakat penghayat Desa Kalikudi Kecamatan Adipala memulai ritual resik kubur, Jum'at (14/6) kemarin.
Kegiatan ini menjadi salah satu prosesi Pudunan di Pesangrahan Daun Lumbung, Cilacap Selatan. Ritual Pudunan dilakukan sebagai penutup rangkaian ritual bulan Sadran, puasa dan syawal dengan melaksanakan ritual bekten atau ziarah ke Pesanggrahan Daun Lumbung dan Jatilawang, Pekuncen Banyumas.
Dalam ritual tersebut, pelaku adat, baik laki-laki maupun perempuan, melakukan prosesi laku lampah atau berjalan kaki sejauh 20 kilometer menuju Daun Lumbung, Kamis (13/6).
Mereka memikul bahan-bahan makanan untuk diolah dengan menggunakan keranjang bambu dan blastrang. Tetua Adat Tradisi Anak Putu (ATAP) Kalikudi, Kunthang Sunardi menjelaskan, laku lampah merupakan napak tilas perjalanan leluhur anak putu Kalikudi ke Daun Lumbung pada masa buka alas pada awal abad ke 18.
"Nanti anak putu akan berhenti di tempat pemberhentian atau napak tilas leluhur di Jembatan Sitopong, Pasar Karangkandri, Pasar Limbangan, dan Pasar Gede. Itu sudah ditentukan,"jelasnya.
Setelah sampai di Daun Lumbung, anak putu bakal diterima oleh Kiai Kunci Pasemuan Daun Lumbung. Malam harinya, anak putu Kalikudi akan menggelar muji atau do'a di Pasemuan Daun Lumbung.
Sesepuh Adat Tradisi Anak Putu (ATAP) Kalikudi, Kyai Hadi Karsim mengatakan, ritual Pudunan diikuti oleh anak putu dari Pasemuan Lor dan Pasemuan Kidul. Ritual tersebut sudah dilakukan sejak ratusan tahun lalu.
"Ritual bekten ini anak putu melakukan resik kubur dan ziarah ke makam Daun Lumbung dipimpin oleh Kyai Kunci Daun Lumbung. Ini merupakan bentuk hormat kita kepada leluhur anak putu yang buka alas di Cilacap," ujarnya.
Sore harinya, anak putu melakukan ritual kepungan atau selamatan di Pasemuan Daun Lumbung. Kepungan yang dimasak merupakan bekal anak putu yang dibawa dari Kalikudi.
"Setelah ritual bekten bakal ada ritual kepungan. Makanan dimasak oleh anak putu perempuan. Bekal yang dibawa kemarin itu yang dimasak. Ini sebagai bentuk syukur kita atas pemberian nikmat dari yang kuasa," kata dia. Pada Sabtu pagi, anak putu akan kembali berjalan kaki pulang ke Desa Kalikudi. (ray/din)