BERTEDUH: Pengendara motor berhenti sementara di bawah jembatan kereta, Underpass Jendsoed, Purwokerto untuk mengenakan jas hujan. (DIMAS PRABOWO/RADARMAS)
PURWOKERTO - Beberapa hari ini, curah hujan tak setinggi dibulan-bulan sebelumnya. Meski begitu, rilis BMKG yang disampaikan melalui BPBD Banyumas memprediksi puncak musim penghujan ada pada bulan Februari.
Sekretaris BPBD Banyumas, Gatot Epri mengatakan musim penghujan puncaknya Februari. Hal tersebut berdasarkan rilisnya BMKG.
"Memang itu tidak semua wilayah. Artinya, misal di Banyumas tidak semua wilayah akan hujan. Mungkin di daerah tertentu yang curah hujannya memang paling tinggi," kata dia.
Ia menambahkan, dari rilis BMKG, intensitas hujan dalam tataran normal. Artinya sama dengan Desember.
"Hanya saja durasinya nanti yang variatif," imbuhnya.
"Misal di Karanglewas Utara, itu sepanjang Cilongok sampai Baturraden durasinya lebih lama dibandingkan dengan misalnya Patikraja, Rawalo, Purwojati yang lebih singkat. Kalau curah hujan, lebat sedang itu hampir sama," tandasnya.
https://radarbanyumas.co.id/ratusan-desa-di-kabupaten-cilacap-rawan-bencana-hidrometeorologi/
Sementara itu, dalam musim penghujan, biasanya kerap terjadi bencana alam. Pasalnya, Banyumas memiliki tiiga bencana langganan tiap tahunnya. Yaitu Longsor, Angin Kencang, dan Banjir.
Dari data BPBD Banyumas, pada 2021 kemarin, jumlah bencana menurun dari tahun 2020. Pada 2021, total ada 432 kasus. Sedangkan pada 2020 ada 690 kejadian. (mhd)