Sulit Regenerasi, Batik Banyumas Terancam Punah

Rabu 28-04-2021,13:15 WIB

MEMBATIK: Anak-anak yang belajar membatik di galeri Batik Pringmas, sebelum pandemi covid-19. PURWOKERTO - Regenerasi perajin batik saat ini dirasa masih sedikit. Seperti disampikan Sekretaris Batik Tulis KUB Pringmas, Iin Susiningsih. Dia menyayangkan belum banyak perajin batik yang menularkan ilmu membatik pada anak-anaknya. Sebagai bentuk regenerasi perajin batik. "Memang masih sedikit untuk regenerasi perajin batik, hanya ada satu atau dua dari generasi muda," ujarnya. https://radarbanyumas.co.id/gelar-padat-karya-buka-peluang-pengembangan-ekonomi-dinnakerkop-ukm-banyumas-gandeng-pemprov-jateng/ https://radarbanyumas.co.id/tugu-adipura-berkoh-bakal-dilukis-batik/ Menurutnya, regenerasi perajin batik sangat perlu. Dan jika bisa memasukkan keterampilan membatik dalam mata pelajaran muatan lokal di sekolah. Selama ini ada beberapa sekolah dasar yang mengadakan ekstrakulikuler. "Kalau masuk kurikulum bisa lebih mendalami tentang batik," katanya. Iin mengharapkan, jangan sampai tidak ada regenerasi, baik secara lokal maupun nasional. Batik Banyumas terancam punah. Dan yang paling dikhawatirkan, batik akan diklaim negara lain. "Karena membatik ini sebagai seni, tidak bisa dipaksa, tapi harus dikenalkan pelan-pelan pada generasi muda," pungkasnya. Vakum karena Pandemi Terpisah, kondisi memperihatinkan juga dialami sejumlah kelompok perajin batik selama pandemi ini. Salah satunya di Desa Karangjati Kecamatan Kemranjen. "Kelompok perajin batik sedang tidak produksi dulu. Situasi ekonomi sedang sulit," ujar Kepala Desa Karangjati Agus Suprihanto. Menjelang Lebaran yang diharapkan dapat mendongkrak produksi batik. Faktanya, justru sepi. Hingga, akhirnya diputuskan berhenti sementara. Bagi perajin batik di Desa Karangjati, menekuni batik bukan sekadar mengisi waktu luang. Juga ikut serta melestarikan budaya bangsa.(ely/fij)

Tags :
Kategori :

Terkait