HAMA: Petani swadaya mengendalikan populasi walang sangit. ISTIMEWA
SUMPIUH - Populasi hama walang sangit di areal persawahan di wilayah Sumpiuh meluas. Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Daryanto mencatat pada awalnya yang diserang hanya sekitar 15 hektare di Lebeng.
"Meluas ke beberapa desa lain di wilayah Sumpiuh. Populasi walang sangit sudah mencapai lebih dari seratus hektare sampai saat ini. Populasi antara dua sampai lima ekor walang sangit setiap rumpun tanaman padi," papar Petugas POPT BPP Kecamatan Sumpiuh Daryanto, Kamis (25/2).
https://radarbanyumas.co.id/sedang-diusulkan-14-091-kartu-tani-belum-tercetak/
Daryanto merinci sebaran populasi hama walang sangit 20 hektare di Kemiri. Lalu, ada 101 hektare di Kuntili. Selain itu, Karanggedang 25 hektare dan Nusadadi 15 hektare.
Penyebaran dipicu oleh migrasi. Adanya angin kencang, menerbangkan walang sangit. Seperti yang terjadi di Nusadadi.
"Dari keterangan petani, sebelum hujan disertai angin kencang. Belum ada walang sangit. Setelah itu, tiba-tiba jadi banyak walang sangit dan laporan ke POPT," imbuh Daryanto.
Adanya serangan walang sangit tersebut belum sampai terjadi kerusakan pada tanaman padi. Sebab, petani sudah semakin waspada terhadap hama yang datang.
Sehingga, kedatangan hama walang sangit langsung dikendalikan petani melalui penyemprotan. Petani was-was akan merusak padin yang mengancam turunnya produktivitas panen kelak.
Umur tanaman padi yang diserang antara 60 sampai 70 hari. Masa rawan serangan walang sangit selama sepuluh hari. Varietas tanaman diantaranya ciherang, mekongga, inpari 42 dan logawa.
"Areal persawahan yang masih kami waspadai dari walang sangit adalah bekas genangan. Karena pola tanam mundur akibat genangan air, petani kesulitan tanam. Gagal tanam sampai tiga kali," tandas Daryanto. (fij)