Program “Gerakan Masyarakat Sehat Ginjal” berhasil membentuk 28 relawan kesehatan ginjal pada tiga pos, dilengkapi modul, protokol pelaporan-rujukan, dan 40 poster edukasi.
Pengetahuan kader meningkat dari rata-rata 85 menjadi 90, menunjukkan peningkatan kapasitas dalam edukasi dan deteksi dini.
Penguatan kompetensi kader merupakan bagian penting dalam pelayanan kesehatan primer berbasis komunitas (World Health Organization [WHO], 2025).
Skrining urine terhadap 100 masyarakat berisiko menemukan 36 orang (36%) dengan sedikitnya satu parameter abnormal, terdiri atas proteinuria 8%, glukosuria 5%, dan pH abnormal 23%.
Hasil ini menunjukkan pentingnya skrining sebagai pintu masuk deteksi dini, tetapi tidak dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis PGK. Pemeriksaan lanjutan berupa ACR dan fungsi ginjal diperlukan sesuai indikasi (Kidney Disease: Improving Global Outcomes [KDIGO], 2024; Allen et al., 2024).
Program berimplikasi pada terbentuknya jejaring edukasi–skrining–rujukan–tindak lanjut, yang dapat dikembangkan menjadi Pos Sehat Ginjal dengan dukungan Puskesmas dan pemerintah desa (Wong et al., 2023; Wu et al., 2024).
Kesimpulan
Pelaksanaan “Gerakan Masyarakat Sehat Ginjal” menunjukkan bahwa program berbasis komunitas mampu membangun kapasitas relawan, menyediakan media edukasi, dan membuka akses skrining kesehatan ginjal bagi masyarakat berisiko.
Peningkatan skor pengetahuan dari 85 menjadi 90 menunjukkan adanya peningkatan setelah pelatihan, sedangkan hasil urine strip menemukan 36% peserta dengan minimal satu parameter abnormal yang perlu mendapatkan perhatian dan tindak lanjut.
Temuan ini menegaskan bahwa skrining komunitas berpotensi menjadi pintu masuk deteksi dini, tetapi hasil urine strip tidak boleh digunakan sebagai diagnosis PGK tanpa pemeriksaan konfirmasi.