SUMBER PENGHIDUPAN. Gudang Bulog Cindaga, menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat sekitar.-JUNI R/RADARMAS-
Menurut Setyo Aji keberadaan kuli panggul merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Bulog. “Mereka bagian yang menyatu dari rantai logistik Bulog. Tidak ada mereka (kuli panggul) tidak ada beras yang keluar,” kata Setyo Aji.
Simbiosis mutualisme antara Bulog dan kuli panggul berlangsung lama sekali.
Dari aspek sosial Bulog dan kuli panggul ini saling membutuhkan satu sama lain. Bukan tanpa alasan kuli panggul masih dipertahankan.
Setyo Aji menjelaskan, dari aspek teknis menyusun stapel beras dengan ketinggian 25 karung bukan barang mudah. Stapel adalah metode penumpukan atau penyusunan karung beras di gudang untuk memudahkan penghitungan, menjaga stabilitas tumpukan, dan memastikan sirkulasi udara yang baik. “Perlu jam terbang, dan juga perhitungan teknis agar kuncian stapel kokoh dan tidak mudah roboh,” kata Setyo Aji.
Gudang Bulog didesain untuk optimalisasi stok. Menurut Setyo Aji penggunaan forklift membutuhkan ruang untuk manuver yang lebih luas. Dampaknya kurang optimal untuk menyimpan stok. Oleh karena itu, kuli panggul yang bekerja di Bulog ia sebut, sangat loyal. Relasi Bulog dan kuli panggul juga sudah seperti keluarga.
“Kalau mereka (kuli panggul) punya hajat misal anaknya khitan atau menikah, kita datang kesana,” ujarnya. Meski tidak ada ikatan yang resmi, dari sisi pengupahan ia menjamin Bulog memberikan upah yang pantas.
Setyo Aji mengatakan, upah ditetapkan oleh pusat, berdasarkan perhitungan mengikuti perkembangan ekonomi.
Setyo Aji menuturkan, tidak seperti kuli lainnya misal kuli bangunan yang kerjanya tidak menentu. Kuli panggul Bulog pekerjaannya langsam setiap tahun. “Jadi, pekerjaannya ada terus,” kata Setyo Aji.
Bulog juga memperhatikan risiko kecelakaan kerja yang setiap saat mengintai kuli panggul. “Kami memfasilitasi BPJS Ketenagakerjaan,” paparnya.
Selain itu, Bulog juga mengapresiasi kuli panggul yang loyal dan sudah lama bekerja. Bulog berupaya memberi santunan dan seragam kepada mereka.
“Kami memanusiakan mereka antara lain dengan pembagian hadiah kecil-kecilan,” kata Setyo Aji.
Menurut Setyo Aji tetap ada ruang bagi kuli panggul pada masa depan. Hal itu karena secanggih apa pun teknologi, pasti ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan sepresisi dengan tenaga manusia.
Apalagi kini Bulog dalam penyediaan pangan, ada beras yang kemasaanya bulky 100 kg. "Masih sangat diperlukan tenaga manusia, yang bisa menata lebih rapi dan presisi," kata Setyo Aji.
Ketua Laboratorium Sosiologi Universitas Jenderal Soedirman Dr. Tri Wuryaningsih, M.Si. mengatakan, kuli panggul Bulog sebagai infrastruktur hidup. Tanpa otot mereka, rantai pasok pangan mandek. “Perannya sangat vital, tetapi tidak terlihat,” ujar doktor Sosiologi alumnus Universitas Gadjah Mada itu.
Wuryaningsih menjelaskan, masyarakat membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Bulog memerlukan tenaga, guna memastikan rantai pasok pangan aman.