Di Balik Hangatnya Herbal Kemasan, Ada Risiko untuk Hati

Jumat 01-05-2026,20:03 WIB
Editor : Admin

RADARBAYUMAS.DISWAY.ID - Obat herbal kemasan cair seringkali menjadi pilihan instan yang praktis dan saat gejala masuk angin, batuk, atau perut mual menyerang. Karena terbuat dari rempah-rempah, produk ini kerap dianggap sebagai solusi alami yang sepenuhnya aman. Namun, di balik citranya yang “alami” tersebut, sejumlah studi dan pakar kesehatan memperingatkan adanya potensi risiko yang perlu diwaspadai, terutama jika dikonsumsi secara berlebihan.

Salah satu bahan yang memberikan rasa hangat dan aroma khas pada banyak obat herbal kemasan adalah kayu manis. Yang jarang disadari konsumen, industri herbal sering menggunakan kayu manis jenis Cassia (Cinnamomum burmannii). Berbeda dengan kayu manis Ceylon yang kandungan kumarinnya sangat rendah (sekitar 0,004%), kayu manis Cassia bisa mengandung kumarin hingga 1%, atau 250 kali lipat lebih tinggi.

Kumarin adalah senyawa alami yang, jika terakumulasi dalam jumlah besar, diketahui memiliki sifat hepatotoksik atau beracun bagi organ hati.

Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof. Dr.rer.nat. Muhaimin, M.Si., menyoroti kebiasaan masyarakat yang sering abai terhadap takaran obat herbal. “Jadi walaupun kita menggunakan pengobatan yang berbasis bahan alam, tetap dosis itu diperhatikan,” katanya seperti dikutip dari laman resmi Unpad.

Prof. Muhaimin menjelaskan bahwa tidak semua zat yang terlarut dari bahan alam itu bermanfaat bagi tubuh. Beberapa di antaranya bahkan bisa bersifat racun jika dikonsumsi melebihi batas kewajaran. “Kalau banyak akan menumpuk di tubuh,” ia memperingatkan, menepis anggapan bahwa semua yang alami pasti bisa dikonsumsi tanpa batas.

Di negara lain, otoritas kesehatan telah lama mengambil langkah antisipatif. Badan Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA) menetapkan batas aman konsumsi kumarin harian (TDI) hanya sebesar 0,1 miligram per kilogram berat badan. Sementara itu, Institut Penilaian Risiko Federal Jerman (BfR) mengeluarkan peringatan tegas: “Dari penggunaan kumarin sebagai obat, diketahui bahwa dosis yang relatif kecil sekalipun dapat menyebabkan kerusakan hati pada orang yang sensitif.”

Studi toksikologi dalam jurnal Regulatory Toxicology and Pharmacology juga mengungkap bahwa penggunaan ekstrak kayu manis Cassia secara berlebihan tidak hanya mengancam hati, tetapi berpotensi memicu nefrotoksisitas (kerusakan ginjal). Bahaya ini diperparah bagi mereka yang sedang mengonsumsi obat pengencer darah, karena sifat antikoagulan kayu manis dapat memicu interaksi obat yang meningkatkan risiko perdarahan.

Pakar patologi forensik dari University of Adelaide, Prof. Roger Byard, dalam publikasinya di Journal of Forensic and Legal Medicine, juga mengingatkan fenomena terkait hal ini. “Pasien sering keliru meyakini bahwa mereka sedang dirawat tanpa menggunakan bahan kimia atau obat yang berbahaya,” catatnya, menyoroti pentingnya edukasi publik.

Pada akhirnya, obat herbal kemasan tetap bisa menjadi pilihan praktis untuk meredakan gejala ringan. Namun, konsumsi yang berlebihan atau tanpa memahami kandungannya justru bisa menimbulkan masalah baru. Kuncinya sederhana, baca label dengan saksama, patuhi dosis yang dianjurkan, dan jangan pernah menganggap bahwa semua yang “alami” pasti aman tanpa batas.

Tags :
Kategori :

Terkait