Oleh: Dr. Eko Muharudin, S.S., M.Pd.
Dosen S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP UM Purwokerto
“Allah tidak melihat bentuk rupa dan harta benda kita, tapi Dia melihat hati dan amal kita." Pernyataan hadis tersebut dapat menjadi refleksi bagi kita dalam menjalani lika liku kehidupan di dunia ini. Seiring berjalannya waktu, segala bentuk peristiwa dan fenomena kehidupan, baik yang berdampak positif maupun negatif, telah mewarnai kehidupan kita.
Berbagai momen kehidupan sering membuat kita terjerembab lalai dengan urusan ketuhanan dan kemanusiaan. Persaingan dan perlombaan dalam menggapai kepentingan diri maupun kelompok terkadang menjadi racun hati. Bila kita biarkan, racun dalam hati akan menyebabkan kerusakan kepribadian dan akhlak.
Rasulullah ﷺ bersabda, dalam riwayat Imam Bukhari (no. 52) dan Muslim (no. 1599) dari Nu'man bin Basyir. “Ala wa inna fil jasadi mudghah, idza shaluhat shaluhatal jasadu kulluh, wa idza fasadat fasadal jasadu kulluh, ala wa hiyal qalb.” Hadis ini mengandung makna jika hati baik maka seluruh tubuh baik, dan jika rusak maka rusaklah seluruh tubuh
Ramadan mendidik kita untuk mengonservasi hati dari kerusakan spiritual dan emosional. Arti konservasi menurut KBBI daring ialah pemeliharaan dan perlindungan sesuatu secara teratur untuk mencegah kerusakan dan kemusnahan dengan cara mengawetkan. Secara umum, konservasi diartikan sebagai kegiatan untuk menjaga, merawat, dan melindungi sumber daya alam atau benda bernilai agar tidak cepat rusak dan musnah.
Kita dapat meminjam kata konservasi untuk kegiatan memelihara dan melindungi hati kita dari kerusakan. Secara umum, konservasi diartikan sebagai kegiatan untuk menjaga, merawat, dan melindungi sumber daya alam atau benda bernilai agar tidak cepat rusak dan musnah.
Momentum bulan Ramadan dapat membantu seorang muslim untuk mengonservasi hati dari kerusakan mental dan akhlak dengan cara sebagai berikut. Pertama, menghindari kebencian. Kebencian akan menimbulkan kekusutan hati, kejengkelan, serta pandangan atau prespektif buruk terhadap orang lain. Apa saja yang dilakukan orang lain akan dipandang sebagai hal yang buruk. Penelitian yang dilakukan oleh Al-Kandari dan Al Salem (2021) menunjukkan bahwa puasa memiliki efek positif terhadap kesetabilan emosi dan kesehatan mental.
Ramadan mendidik seorang muslim untuk menahan amarah dan emosi negatif, Kedua, menumbuhkan rasa cinta dan kasih. Hati seseorang yang diliputi oleh cinta kasih tidak akan melakukan pelecehan dan kekerasan terhadap sesama. Puasa di bulan Ramadan dapat menjadi momentum untuk menumbuhkan semangat kebersamaan dan meningkatkan kualitas kehidupan sosial di tengah masyarakat (Rahman, 2018) Ramadan mengajarkan sesorang muslim untuk peka (empati) terhadap sesama dengan bersedekah, berinfak, dan berzakat.
Ketiga, meningkatkan rasa tasamuh (toleransi). Seorang Muslim yang menjalankan puasa tidak bisa mengesampingkan pentingnya berbuat baik pada sesama manusia atau yang juga dikenal dengan istilah hablumminannas. Berbuat baik terhadap sesama manusia juga berarti saling menghormati antara umat Islam yang berpuasa dengan mereka yang tidak menjalankannya.
Pecinta dan penyayang sejati selalu diliputi rasa keikhlasan dan kerelaan sehingga akan terwujud rasa hati yang gembira. Dengan demikian, momen bulan Ramadan dapat membantu seorang muslim untuk mengonservasi hati dari kerusakan mental dan akhlak dengan meningkatkan rasa cinta terhadap Allah Swt dan menumbuhkan kasih sayang terhadap sesama dalam kehidupan.