Oleh: Dela Safira Salsabila, S.Kom.
(Alumni Prodi S1 Teknik Informatika)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah, kita kembali dipertemukan dengan bulan Ramadhan. Namun pertanyaannya, apakah kita memaknai Ramadhan hanya sebagai rutinitas tahunan, atau sebagai ruang evaluasi diri yang sungguh-sungguh? Ramadhan bukan sekadar latihan fisik menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan kesadaran, melatih kemampuan kita untuk berhenti sejenak sebelum bertindak, berpikir sebelum bereaksi, dan menimbang sebelum memutuskan.
Rasulullah SAW bersabda, “Puasa adalah perisai” (HR. Bukhari). Ia melindungi bukan hanya dari hawa nafsu yang tampak, tetapi juga dari dorongan-dorongan halus yang perlahan merusak karakter, melemahkan empati, dan mengaburkan kejernihan berpikir.
Bentuk “serangan” terhadap hati di zaman ini justru sering datang tanpa terasa. Di era informasi digital, ia muncul dalam komentar yang memancing amarah, potongan video yang membentuk prasangka, serta informasi tak utuh yang menggiring opini secara sepihak. Polanya cepat, emosional, dan repetitif.
Jika tidak waspada, kita lebih mudah bereaksi daripada merefleksi. Tanpa sadar, hati kita bisa mengeras bukan karena kurang ibadah, tetapi karena terlalu sering bereaksi tanpa jeda.
Kondisi ini diperparah oleh derasnya arus informasi digital. Notifikasi datang tanpa henti, linimasa bergerak cepat, dan setiap orang berlomba menyampaikan pendapat. Kita merasa selalu terhubung, tetapi disaat yang bersamaan kita juga mudah terprovokasi, terpolarisasi, dan tergesa-gesa dalam menyimpulkan sesuatu. Kecepatan sering kali mengalahkan ketelitian.
Di era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), algoritma bekerja berdasarkan kebiasaan kita. Apa yang sering kita tonton akan semakin sering ditampilkan, apa yang kita sukai akan terus diperbanyak. Tanpa disadari, kita bisa terjebak dalam ruang gema, yakni melihat apa yang ingin kita lihat dan mendengar apa yang ingin kita dengar.
Hal tersebut secara tidak langsung memperkuat sudut pandang sendiri dan mengurangi ruang dialog yang sehat. Di titik ini, cara berpikir kita perlahan terbentuk oleh pola konsumsi konten, bukan oleh kedalaman pertimbangan.
Maka muncul pertanyaan mendasar: apakah kita membiarkan algoritma membentuk cara berpikir kita, atau kita memiliki kendali melalui “filter hati”? Di sinilah peran Ramadhan menjadi relevan. Ia melatih kita untuk menghadirkan jeda sebelum bereaksi.
Jika kita mampu menahan diri dari makan dan minum, maka semestinya kita juga mampu menahan diri dari menyebarkan kabar yang belum jelas, menahan jari dari komentar yang tidak baik, dan menahan ego dari perdebatan yang tidak membawa kebaikan.
Allah SWT berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujurat: 6)
Ayat diatas menganjurkan supaya kita meneliti setiap berita sebelum mempercayai dan menyebarkannya. Prinsip ini sangat kontekstual di era digital. Verifikasi bukan sekadar etika jurnalistik, tetapi bagian dari tanggung jawab moral seorang mukmin. Dengan demikian puasa bukan hanya ibadah fisik, melainkan latihan membangun kewaspadaan intelektual.
Sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 183, tujuan puasa adalah membentuk takwa. Takwa di era digital bukan berarti menjauh dari teknologi, melainkan menghadirkan kesadaran dalam menggunakannya. Bijak sebelum membagikan, tenang sebelum menanggapi, dan berpikir sebelum bereaksi, itulah bentuk konkret takwa dalam ruang digital.