Oleh: Robbi Sofwan Amin S.Sos MM
(Ketua Rumah Bertumbuh Indonesia Universitas Muhammadiyah Purwokerto)
Setiap Ramadan kita berpuasa. Masjid ramai, ibadah meningkat. Tapi pertanyaannya: apakah puasa kita benar-benar mengubah keadaan sosial kita?
Allah menegaskan dalam Al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Tujuan puasa adalah takwa. Dan takwa bukan hanya urusan surga-neraka, tetapi kesadaran moral dan tanggung jawab sosial. Jika takwa tumbuh, maka kemiskinan tidak dibiarkan. Anak putus sekolah tidak diabaikan. Kaum dhuafa tidak ditinggalkan.
Rasulullah bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Thabrani)
Dan beliau juga mengingatkan:
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Muhammad al-Bukhari)
Artinya, puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi membentuk karakter: jujur, disiplin, peduli, dan berpikir sehat.
Kita ini mayoritas. Seharusnya kita kuat, bahagia, dan sejahtera. Jika belum, berarti ada yang salah dalam pola pikir kita. Puasa harus menjadi momentum perubahan pola pikir—lebih kritis, rasional, dan solutif. Menggunakan akal sehat untuk membedakan yang bermanfaat dan yang sia-sia.