BANJARNEGARA, RADARBANYUMAS.CO.ID - Upaya meningkatkan pemahaman publik terhadap data statistik terus diperkuat BPS Banjarnegara dengan menggandeng insan media dalam kegiatan “Literasi Statistik untuk Jurnalis”.
Kolaborasi ini menjadi langkah strategis menjelang Sensus Ekonomi 2026 sekaligus bagian dari agenda besar transformasi ekonomi menuju Indonesia Emas 2045.
Kepala BPS Banjarnegara, Edwin Triyoga, menegaskan bahwa di era banjir informasi, kemampuan jurnalis memahami data dan menerjemahkannya ke dalam bahasa publik menjadi sangat penting.
“Media adalah mitra penting dalam membumikan data. Ketika masyarakat melek data, mereka tidak hanya membaca angka, tapi memahami maknanya. Dengan begitu, kebijakan publik bisa lebih tepat sasaran, sehingga kami memandang penting adanya literasi statistik pada insan media ini,” ujarnya, Kamus (27/11/2025).
BACA JUGA:Bangun Satu Data Banyumas, Pemkab dan BPS Sepakat Perkuat Integrasi Statistik
Edwin menambahkan, derasnya arus konten digital sering membuat informasi bercampur antara data valid dan klaim tanpa dasar. Literasi statistik, menurutnya, adalah filter yang memastikan narasi pembangunan tidak dibangun dari asumsi keliru.
“Masyarakat sekarang menghadapi information overload. Jika jurnalis memahami metode statistik, pemberitaan menjadi lebih akurat dan tidak membingungkan publik,” katanya.
Dalam sesi pemaparan, BPS membahas sejumlah indikator utama yang selama ini menjadi acuan kebijakan pemerintah daerah, termasuk cara penghitungan inflasi, faktor penyebab kenaikan harga, metode menentukan garis kemiskinan, tren tingkat kemiskinan Banjarnegara, hingga pertumbuhan ekonomi per triwulan.
Edwin menekankan bahwa data tersebut bukan sekadar angka, tetapi dasar evaluasi arah pembangunan.
“Data kemiskinan, misalnya, menjadi dasar evaluasi kebijakan. Pemerintah dapat menargetkan program pengentasan kemiskinan lebih tepat sasaran,” jelasnya.
Selain materi teknis, BPS juga menyoroti pentingnya penyajian data yang humanis, kontekstual, dan mudah dipahami tanpa mengurangi ketelitian ilmiah.
“Kami ingin media menjadi jembatan antara data dan masyarakat. Dengan bahasa yang sederhana, informatif, dan kontekstual, data bisa lebih bermakna bagi publik,” tegas Edwin.